Kain itu berkibaran tertiup oleh angin. Kain penutup rambut yang
menjulur hingga menutupi dada. Yah, hijab berwarna coklat yang aku kenakan di
senja itu, ketika langit bergaris jingga. Menunggu adzan maghrib di beranda
mesjid agung Pandeglang yang menjadi tempat pertapaanku kala dilanda gundah
gulana. Dengan posisi yang tegak mematung menengadah ke atas, berdoa dalam hati
agar aku dianugerahi rasa tabah akan penjajahan yang menimpa hatiku.
“Aya naon atuh, Neng geulis[1]?”
sapa seorang wanita dengan logat sunda daerah Pandeglang, yang tak lain adalah
sahabatku sendiri.
“Tak ada apa-apa. Aku hanya ingin pulang saja” jawabku sekenanya.
“Jangan berbohong. Aku sahabatmu sedari satu windu lalu”
Aku hanya menghela nafas
“Ya sudah, tak mengapa jika kamu belum siap untuk berbagi kisah
denganku. Selepas sholat maghrib nanti kita ke Alun-alun, yuk! Masih ada
pameran di sana” ajaknya sembari menunjuk ke arah Alun-alun Pandeglang yang
memang tak jauh dari lokasi Mesjid Agung.
“Maaf, Marni. Bukannya aku tak mau, tapi suasana sudah malam. Aku
harus pulang lagi ke pondok. Tak enak, jika anak-anak nanti melihatku pulang
malam. Terlebih, jika Mudir tau” paparku.
“Ya sudah. Kamu harus jadi contoh yang baik untuk anak-anak didikmu”
Aku hanya menyimpulkan senyum dari bibirku kepada Marni, sahabatku
sejak dari pesantren lalu. Aku pun, beranjak untuk kembali ke pondok pesantren,
tempat naungku saat ini. Tempat yang telah memberikanku ilmu hingga kini aku
harus menyalurkan ilmu itu di tempat aku dibesarkan. Yah, kota Pandeglang
sebagai kota yang dikenal sebagai kota santri di Provinsi Banten ini.
Sementara, tanah lahirku adalah kota Serang, yang cukup jauh dari Pandeglang.
yang jua tengah miris dengan keislamannya.
***
“Bagaimana rencanamu untuk keluar dari pondok ini, Siti?” tanya teh
Rita, rekan guru yang sekaligus kaka seniorku.
“Aku masih bimbang, teh[2]”
jawabku
“Loh, kenapa?” tanyanya penasaran
“Aku, aku takut dengan pergaulan di luar pesantren. Jiwaku masih
labil, aku takut jilbab besar ini akan lepas. Apalagi, rencanaku ingin
mengembara ke Ibukota untuk kerja”
“Walah, Neng. Kenapa harus ke Jakarta. Area Banten juga
masih banyak. Serang kota sudah banyak pabrik, terlebih Cilegon yang kian
merajalela dengan Industrinya. Membuat polusi udara dan udara yang panas
menyengat”
Aku hanya menghela nafas mendengar penuturan dari teh Rita.
“Saranku, lebih baik kamu mengajar saja. Syukur, syukur sih jika
masih mau bertahan di pondok ini. Atau mengajar di kampong halamanmu saja yang
udaranya tak sepanas Cilegon. Apalagi jika di sini, di Pandeglang yang masih
amat sejuk karena dekat dengan pegunungan”
“Sebenarnya, tekadku yang ingin pergi ke Ibukota semata-mata bukan
untuk berkerja saja. Tapi, di samping itu aku ingin acap kali berjumpa dengan
Ka Dani”
“Siti, Dani bukan laki-laki yang baik untukmu”
“Tapi, teh. Sudah hampir tiga tahun aku mencoba menghapus namanya.
Dan selama itu pula aku selalu berdoa kepada Allah agar bisa mengikhlaskannya.
Tapi, hasilnya nihil. Aku masih belum bisa melupakannya. Hanya dia yang
memberikanku nasihat yang bermanfaat. Dan hanya dia pula lelaki yang
benar-benar menjaga kesucian cintanya. Meski dia hanya berkirim kabar hari
sabtu dan minggu saja. Tapi, itu yang membuatku nyaman. Yah, meski sebenarnya
dalam islam hal seperti ini amat sangat dilarang. Walaupun bukan pacaran”
“Dia milik Allah, mintalah sama Allah. Dan jodoh gak akan kemana.
Tulang rusuk tak akan pernah tertukar dengan pemiliknya. Tak usah berlebihan
meratapinya”
Air mataku menetes, mengalir menganak sungai.
“Percayalah, Siti. Jodoh tak akan kemana” ucapnya sembari
merangkulku seraya menenangkan isak tangisku yang kian menjadi.
“Ahh, sudut Mesjid Agung Pandeglang. itulah awal pertemuanku
dengannya empat tahun silam. Dan rasanya, kali ini aku sungguh harus berjuang
keras, agar tak lagi gugur dalam peperangan melawan segerombol rasa yang
menjajahku” lirihku dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar