Kamis, 01 Oktober 2015

Pilihan-Mu





Rasulullah Saw bersabda “ Sekiranya aku dibenarkan untuk memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya” HR. Tabrani & Ibnu Hibban.
Langit yang biru, kini berubah warna menjadi jingga, pertanda senja telah tiba. Dan tak lama kemudian pun Purnama menyusul, bersama hembusan sang angin malam yang kian menusuk sembilu. Merekahkan jiwa yang nelangsa, merindukan cinta yang hakiki dari Sang Pemilik Cinta. Syahdunya lantunan ayat yang berirama tak mampu dikalahkan oleh syair sang pujangga manapun. Yah, itulah dia Ayat-ayat-Nya yang wajib kita pelajari sebagiamana salah satu hadits riwayat Bukhori & Muslim bahwasannya “Sebaik-baik diantara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”.
“Ada yang mau kenal denganmu Nis” ucap Alyasahabat karibku sendiri ketika aku tengah asyik memilih sebuah buku di sebuah perpustakaan.
“Siapa?” tanyaku sembari menghela nafas
“Ah, kamu pura-pura tidak tau saja. Banyak laki-laki yang mau kenal denganmu. Kenapa  kamu ga buka sedikit saja hatimu untuk salah satu dari mereka” tegasnya
“Bukannya aku ga mau, Al. tapi aku belum siap untuk menghalalkannya” balasku
“Iya, tapi mau sampai kapan seperti ini. Sahabat-sahabat kita udah pada nikah semua, termasuk aku juga. Kamu mau cari yang seperti apa lagi. Mereka-mereka semua udah cukup mapan dan ga jelek-jelek banget” sambungnya
“Usiaku baru 21 tahun ko. Dan aku ga cari yang bagaimana-bagaimana, cukup yang agamanya baik aja, yang bisa menjadi Imamku di dunia dan di akhirat kelak dan juga supaya bisa bimbing aku ke Syurga Allah. Itu aja ko, ga yang muluk-muluk. InsyaAllah, jika sudah waktunya pasti akan tiba, jodoh itu kan di tangan Allah, meski pun kita ga pernah punya pacar, Allah udah mempersiapkannya” tegasku
“Yah, semoga saja kamu mendapatkan seorang laki-laki yang sesuai dengan keinginanmu. Aku sebagai sahabat hanya bisa mendoakan saja?”
***
Awan hitam masih setia menemani sang langit sedari tadi pagi, hingga tak ada bedanya suasana saat senja datang menjemput, dan mulailah setetes demi tetes air turun dari langit. Yah, itulah hujan. Hujan yang membuat seluruh permukaan bumi ini menjadi basah, bunga-bunga pun mulai kuncup kembali, bermekaran dengan harum yang semerbak.
Aku pun tak bisa beranjak kemana-mana dari tempat tinggalku, di sebuah kost, dan memang hari ini pun adalah hari liburku untuk mengajar di sebuah lembaga pendidikan. Tak lama kemudian, terdengar suara ponselku berdering. Dan ternyata sebuah panggilan dari Ibuku.
“Assalamualaikum” terdengar suara wanita separuh baya dari barang elektronik yang sudah mendarah daging bagi manusia ini.
“Waalaikumussalam” jawabku singkat
Apa kabar nak, disana?” tanyanya
“Alhamdulillah Bu, Nisa baik-baik saja. Kabar Ibu dan Ayah serta saudara-saudara di sana bagaimana?” tanyaku kembali
“Alhamdulillah kami juga di sini baik-baik saja”
“Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu”
 “Kamu bisa pulang sejenak ke rumah. Ada hal penting yang ingin Ibu dan Ayah sampaikan”
Ooh iya Bu. Nisa akan pulang saat ini juga”
Saat itu pula, komunikasi antara aku dan Ibu terputus.
***
Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung bergegas untuk pulang ke rumah. Memenuhi permintaan Ayah dan Ibuku.
Ketika aku sampai di rumah, keadaan di sana terlihat ramai tak seperti biasanya. Ternyata, ada tamu, seorang laki-laki yang berperawakan tinggi dan rapi dengan kemeja dan celana yang dikenakan yang didampingi seorang laki-laki dan wanita separuh baya. Aku pun langsung dipersilahkan duduk oleh Ibu dan Ayahku setelah aku bersalaman terlebih dahulu kepada semuanya.
“Nisa. Kenalkan, ini Bapak Surya beserta Istrinyasahabat Ayah waktu kecil. Dan di sampingya adalah Putra sulungnya, Ilham namanya dan dia baru saja menyelesaikan kuliah S2 nya di Al-Azhar Mesir” ucap Ayah sembari memperkenalkan ketiga orang tamu itu.
Aku pun hanya tersenyum simpul kepada mereka
“Jadi, maksud kedatangna kami ke sini. Ingin memperat tali persaudaraan dengan menjodohkan IlhamPutra sulung kami, dengan NisaPutri Bungsu Pak Hadi” tegas seorang pria separuh baya itu. Aku hanya menundukan kepala, tak mampu untuk menatap mata-mata mereka yang kini tertuju padaku serta dadaku pun berdebar kencang tak terkendali.
“Saya pribadi sangat berharap. Tapi, ini semua anak-anak kita yang nantinya akan menjalankan. Bagaimana kalau kita kasih kesempatan dahulu kepada mereka untuk saling mengenal selama satu bulan ini, Ta’aruf dulu saja. Dan jika memang cocok Alhamdulillah kita lanjutkan” tutur Ayah yang membuat debar jantungku mereda.
Akhirnya, kami pun berta’aruf selama satu bulan ini. Yah, semoga saja dia adalah seseorang yang dikirimkan Allah untukku.
***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar