Kamis, 01 Oktober 2015

Selembar Kain Penutup Rambut



“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS: Al-Ahzab;59)
Di atas sajadah lusuh, aku tersungkur. Hingga kain berwarna putih yang bernama mukena itu pun terjuntai, membalut seonggok daging. Hanya cahaya temaramnya lampu yang menghiasi pada lelangit di sepertiga malam. Aku luruh dalam sujud, hingga buliran bening pun tak mampu lagi untuk terbendung.
            “Nisa” terdengar suara wanita separuh baya yang saat itu pula terasa olehku, jemarinya menyentuh pundak.
            Aku pun bangkit, lantas memeluk erat tubuh wanita yang telah dua puluh dua tahun merawatku seorang diri tanpa ditemani suami di sisinya. Aku menangis sejadi-jadinya, merobek keheningan malam.
            “Ibu” panggilku sembari menahan isak tangis yang tersedu sedan.
            “Sabar, Nis! Allah tak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya” ucap Ibu sembari membelai rambutku yang terbaluti oleh mukena dengan jemarinya yang mulai keriput.
            Aku masih mencoba menahan isak tangis, menahan sesak dalam dada, yang pedih menyayat tak tertahan.
            “Ikhlaskanlah! Allah akan menggantikannya dengan yang jauh lebih baik darinya”
            “Iya, Bu” aku mengangguk mengiyakan.
            “Sudah! Jangan menangis lagi. Ini sudah hari ke sepuluh dimana hari pernikahanmu dibatalkan. Sangat disayangkan jika harus berlarut-larut. Apalagi alasan lelaki itu membatalkan pernikahannya karena kamu mengenakan hijab, perintah Allah yang tertera dalam Al-qur’an bagi semua wanita muslim. Sungguh, dia bukan lelaki yang baik untukmu.” ucap Ibu menenangkanku sembari mengusap air mata yang membasahi pipi.
***
Kain itu berkibaran tertiup oleh angin. Kain penutup rambut yang menjulur hingga menutupi dada. Yah, hijab berwarna coklat yang aku kenakan di senja itu, ketika langit bergaris jingga. Menunggu adzan maghrib di beranda mesjid agung yang menjadi tempat pertapaanku kala dilanda gundah. Dengan posisi yang tegak mematung menengadah ke atas, berdoa dalam hati agar aku dianugerahi rasa tabah akan musibah yang menimpa.
“Sudahlah, Nis!” ucap Milasahabat yang tengah satu dasawarsa menemaniku sembari membenahkan jilbabnya yang dililit-lilit seperti trend masa kini.
Aku hanya tersenyum simpul kepadanya.
“Tak sepadan jika wajahmu muram. Lihatlah! Kamu semakin anggun dengan hijab syar’I yang kamu kenakan. Aku saja kalah, masih belum bisa mengenakan hijab seperti itu. Aku masih saja tergoda oleh trend hijab masa kini yang dililit-lilit dan sebagainya” tutur Mila.
“Aku juga tergoda. Tapi, aku lebih nyaman memakai hijab seperti ini. Seperti kali pertamanya Kak Ilham memberikannya sebagai kado di hari ulang tahunku satu bulan lalu. Kado yang berisi kain penutup rambut. Dari sanalah aku mulai berpaling mengenakan hijab”
“Allah memang Maha Kuasa. Dia mengirimkan hidayah kepada hambanya dengan tak terkira. Mungkin, Ka Ilham juga yang kelak nanti menjadi Imammu.” sambung Mila.
“Sssttt. Jangan sembarangan bicara. Kita masuk ke dalam, yuk! Tak lama lagi maghrib akan tiba.
            Lantas, kami pun masuk ke dalam mesjid, menyambut adzan di atas hamparan sajadah bersama para jemaah yang lain.
            Tak hentinya aku berdoa dalam hati ketika adzan telah selesai dikumandangkan. Waktu dianatara adzan dan iqomah, sebagai salah satu waktu Mustajab untuk berdo’a.
***
            Tanah rasaku mungkin telah kering kerontang dilanda kemarau panjang. Hingga aku belum juga mampu untuk menerima kehadiran lelaki lain. Entahlah, berapa musim kemarau lagi harus kulalui. Saat ini, aku tak ingin ada hujan membasahi tanahku. Pun, untuk menyelamatkan sumber kehidupan. Kelak, jika suatu saat nanti aku telah jera dengan kemarau ini. Aku akan melakukan sholat Istisqa untuk meminta hujan. Jika hujan itu belum turun.
            “Kamu mau yang cari bagaimana lagi, Nak?” tanya Ibu padaku yang tengah membaca buku, setelah kepulangan seorang lelaki yang datang melamar, lantas aku tolak.
            “Nisa gak mencari yang bagaimana-bagaimana, Bu. Nisa tak ingin kejadian itu terulang kembali. Nisa belum siap. InsyaAllah, suatu saat nanti. DIA akan menggerakan hati Nisa.” jawabku.
            “Ya sudah. Bagaimana kamu saja, Nak. Ibu tak memaksa. Yang penting kamu tak salah memilih lagi. Agar mendapatkan calon Imam yang bisa membimbingmu di dunia dan akhirat. Bukankah, Rasulullah saw. Pernah bersabda; “Sekiranya aku dibenarkan untuk memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang istri untuk bersujud kepada istrinya” HR. Tabrani & Ibnu Hibban.
            “Iya, Bu. Pesan itu membekas dalam. InsyaAllah, sebisa mungkin aku akan berusaha untuk berbakti kepada suamiku kelak. Menjadi Istri shalehah untuknya.
***
            Cahaya bulan, kembali menjadi penerang di gelap gulitanya malam. Entahlah! Sudah berapa purnama kulalui. Aku hampir lupa dengan kejadian yang mengenaskan segenap hati dan perasaanku. Yang membuatku sempat kehilangan rel kendali.
            Pikiranku melayang di kejauhan sana. Menelusuri jejak langkah yang telah kutapaki, hingga aku masuk dalam alam bawah sadar.
            “Nis, Nisa” suara lembut dengan jemari yang menggunjangkan pundakku membawaku kembali ke dunia nyata.
            “Eh, Ibu. Nisa ketiduran” jawabku sembari membuka kedua bola mataku.
            “Maaf, jika Ibu ganggu. Tapi di ruang tamu sana ada orang yang ingin bertemu denganmu”
            “Siapa?” tanyaku penasaran
            “Sudah, ikut Ibu saja, yuk!”
            Aku pun mengikuti langkah kaki Ibu yang melaju ke ruang tamu, setelah aku membasuh muka terlebih dahulu.
            Entahlah, ada rasa yang mendesir. Sesaat sebelum kudapati sosok yang telah menungguku di sana.
            “Ka Ilham” ucapku ketika sosoknya telah kudapati tengah terduduk di sofa. Entahlah, semburat wajahnya begitu menentramkan hati ketika sekilas aku terpaku dalam diamku menatapnya, hingga aku tersadarkan dari tatapan itu.
            “Nis” sapa sesosok makhluk berwujud Adam itu.
            “Astaghfirullahal ‘adzim” ucapku dalam hati seraya menundukan pandanganku.
            “Apa kabar?” tanyanya
            “Alhamdulillah, aku baik-baik saja” jawabku dengan wajah yang masih menunduk.
            Sesaat, aku dan Ilham terjerumus dalam keheningan.
            “Wah, kenapa jadi diam begini?” tanya lelaki separuh baya, yang tengah duduk di samping Ilham, yang tak lain adalah ayahnya sendiri.
            Serebtal, semua penghuni ruangan pun tertawa, mencairkan suasana yang sempat membeku.
            “Langsung saja, toh. Jadi tujuan kami datang ke sini untuk mempererat tali silaturahmi. Dengan niat, ingin mengkhitbah Nisa untuk Ilham, anak kami” tutur lelaki separuh baya itu.
            Wajahku memerah, jantungku berdebar keras tak terkendali ketika mendengar penuturan itu.
            “Alhamdulillah. niat ibu dan bapak sekeluarga saya sambut baik. Tapi, bagaimana pun juga. Pernikahan ini, anak saya menjalani. Jadi, keputusannya ada pada Nisa seutuhnya” tutur ibu dengan penuh santun.
            “Syukur, Alhamdulillah jika ibu menerimanya. Lalu, bagaimana, Nis?” sambung Ibu Ilham.
            “Bagaimana, Nak?” tanya Ibu kembali.
            Aku hanya menunduk malu dan menganggukan kepala tanda persetujuanku
            “Alhamdulillah” jawab seisi ruangan dengan serentak
***
            Sebelum diijab kabulkan
            Syari’at tetap membatasi
            Pelajari imu rumah tangga
            Agar kelak lebih bersedia
            Sebait lagu miliknya Hijaz yang bersenandung dari ponselku, menemani di malam berbahagia ini. Malam, setelah ikrar yang dilafadzkan oleh Ilham di depan Allah dan khalayak ramai. Mengikat janji suci dalam indahnya pernikahan.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar