“Hai Nabi, Katakanlah kepada
isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:
"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka".
yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak
diganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS:
Al-Ahzab;59)
Di atas sajadah lusuh, aku tersungkur. Hingga kain berwarna putih
yang bernama mukena itu pun terjuntai, membalut seonggok daging. Hanya cahaya
temaramnya lampu yang menghiasi pada lelangit di sepertiga malam. Aku luruh
dalam sujud, hingga buliran bening pun tak mampu lagi untuk terbendung.
“Nisa” terdengar
suara wanita separuh baya yang saat itu pula terasa olehku, jemarinya menyentuh
pundak.
Aku pun bangkit,
lantas memeluk erat tubuh wanita yang telah dua puluh dua tahun merawatku
seorang diri tanpa ditemani suami di sisinya. Aku menangis sejadi-jadinya,
merobek keheningan malam.
“Ibu” panggilku
sembari menahan isak tangis yang tersedu sedan.
“Sabar, Nis! Allah
tak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya” ucap Ibu sembari
membelai rambutku yang terbaluti oleh mukena dengan jemarinya yang mulai
keriput.
Aku masih mencoba
menahan isak tangis, menahan sesak dalam dada, yang pedih menyayat tak
tertahan.
“Ikhlaskanlah!
Allah akan menggantikannya dengan yang jauh lebih baik darinya”
“Iya, Bu” aku
mengangguk mengiyakan.
“Sudah! Jangan
menangis lagi. Ini sudah hari ke sepuluh dimana hari pernikahanmu dibatalkan.
Sangat disayangkan jika harus berlarut-larut. Apalagi alasan lelaki itu
membatalkan pernikahannya karena kamu mengenakan hijab, perintah Allah yang
tertera dalam Al-qur’an bagi semua wanita muslim. Sungguh, dia bukan lelaki
yang baik untukmu.” ucap Ibu menenangkanku sembari mengusap air mata yang
membasahi pipi.
***
Kain itu berkibaran tertiup oleh angin. Kain penutup rambut yang
menjulur hingga menutupi dada. Yah, hijab berwarna coklat yang aku kenakan di
senja itu, ketika langit bergaris jingga. Menunggu adzan maghrib di beranda
mesjid agung yang menjadi tempat pertapaanku kala dilanda gundah. Dengan posisi
yang tegak mematung menengadah ke atas, berdoa dalam hati agar aku dianugerahi
rasa tabah akan musibah yang menimpa.
“Sudahlah, Nis!” ucap Mila—sahabat yang tengah satu dasawarsa menemaniku sembari membenahkan
jilbabnya yang dililit-lilit seperti trend masa kini.
Aku hanya tersenyum simpul kepadanya.
“Tak sepadan jika wajahmu muram. Lihatlah! Kamu semakin anggun
dengan hijab syar’I yang kamu kenakan. Aku saja kalah, masih belum bisa
mengenakan hijab seperti itu. Aku masih saja tergoda oleh trend hijab masa kini
yang dililit-lilit dan sebagainya” tutur Mila.
“Aku juga tergoda. Tapi, aku lebih nyaman memakai hijab seperti
ini. Seperti kali pertamanya Kak Ilham memberikannya sebagai kado di hari ulang
tahunku satu bulan lalu. Kado yang berisi kain penutup rambut. Dari sanalah aku
mulai berpaling mengenakan hijab”
“Allah memang Maha Kuasa. Dia mengirimkan hidayah kepada hambanya
dengan tak terkira. Mungkin, Ka Ilham juga yang kelak nanti menjadi Imammu.”
sambung Mila.
“Sssttt. Jangan sembarangan bicara. Kita masuk ke dalam, yuk! Tak
lama lagi maghrib akan tiba.
Lantas, kami pun masuk ke dalam mesjid, menyambut adzan di atas
hamparan sajadah bersama para jemaah yang lain.
Tak hentinya aku
berdoa dalam hati ketika adzan telah selesai dikumandangkan. Waktu dianatara
adzan dan iqomah, sebagai salah satu waktu Mustajab untuk berdo’a.
***
Tanah rasaku
mungkin telah kering kerontang dilanda kemarau panjang. Hingga aku belum juga
mampu untuk menerima kehadiran lelaki lain. Entahlah, berapa musim kemarau lagi
harus kulalui. Saat ini, aku tak ingin ada hujan membasahi tanahku. Pun, untuk
menyelamatkan sumber kehidupan. Kelak, jika suatu saat nanti aku telah jera
dengan kemarau ini. Aku akan melakukan sholat Istisqa untuk meminta
hujan. Jika hujan itu belum turun.
“Kamu mau yang
cari bagaimana lagi, Nak?” tanya Ibu padaku yang tengah membaca buku, setelah
kepulangan seorang lelaki yang datang melamar, lantas aku tolak.
“Nisa gak mencari
yang bagaimana-bagaimana, Bu. Nisa tak ingin kejadian itu terulang kembali.
Nisa belum siap. InsyaAllah, suatu saat nanti. DIA akan menggerakan hati Nisa.”
jawabku.
“Ya sudah.
Bagaimana kamu saja, Nak. Ibu tak memaksa. Yang penting kamu tak salah memilih
lagi. Agar mendapatkan calon Imam yang bisa membimbingmu di dunia dan akhirat.
Bukankah, Rasulullah saw. Pernah bersabda; “Sekiranya aku
dibenarkan untuk memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya
aku perintahkan seorang istri untuk bersujud kepada istrinya” HR. Tabrani &
Ibnu Hibban.
“Iya, Bu. Pesan
itu membekas dalam. InsyaAllah, sebisa mungkin aku akan berusaha untuk berbakti
kepada suamiku kelak. Menjadi Istri shalehah untuknya.
***
Cahaya bulan,
kembali menjadi penerang di gelap gulitanya malam. Entahlah! Sudah berapa
purnama kulalui. Aku hampir lupa dengan kejadian yang mengenaskan segenap hati
dan perasaanku. Yang membuatku sempat kehilangan rel kendali.
Pikiranku melayang
di kejauhan sana. Menelusuri jejak langkah yang telah kutapaki, hingga aku
masuk dalam alam bawah sadar.
“Nis, Nisa” suara
lembut dengan jemari yang menggunjangkan pundakku membawaku kembali ke dunia
nyata.
“Eh, Ibu. Nisa
ketiduran” jawabku sembari membuka kedua bola mataku.
“Maaf, jika Ibu
ganggu. Tapi di ruang tamu sana ada orang yang ingin bertemu denganmu”
“Siapa?” tanyaku
penasaran
“Sudah, ikut Ibu
saja, yuk!”
Aku pun mengikuti
langkah kaki Ibu yang melaju ke ruang tamu, setelah aku membasuh muka terlebih
dahulu.
Entahlah, ada rasa
yang mendesir. Sesaat sebelum kudapati sosok yang telah menungguku di sana.
“Ka Ilham” ucapku
ketika sosoknya telah kudapati tengah terduduk di sofa. Entahlah, semburat
wajahnya begitu menentramkan hati ketika sekilas aku terpaku dalam diamku
menatapnya, hingga aku tersadarkan dari tatapan itu.
“Nis” sapa sesosok
makhluk berwujud Adam itu.
“Astaghfirullahal
‘adzim” ucapku dalam hati seraya menundukan pandanganku.
“Apa kabar?”
tanyanya
“Alhamdulillah,
aku baik-baik saja” jawabku dengan wajah yang masih menunduk.
Sesaat, aku dan
Ilham terjerumus dalam keheningan.
“Wah, kenapa jadi
diam begini?” tanya lelaki separuh baya, yang tengah duduk di samping Ilham,
yang tak lain adalah ayahnya sendiri.
Serebtal, semua
penghuni ruangan pun tertawa, mencairkan suasana yang sempat membeku.
“Langsung saja,
toh. Jadi tujuan kami datang ke sini untuk mempererat tali silaturahmi. Dengan
niat, ingin mengkhitbah Nisa untuk Ilham, anak kami” tutur lelaki separuh baya
itu.
Wajahku memerah,
jantungku berdebar keras tak terkendali ketika mendengar penuturan itu.
“Alhamdulillah.
niat ibu dan bapak sekeluarga saya sambut baik. Tapi, bagaimana pun juga.
Pernikahan ini, anak saya menjalani. Jadi, keputusannya ada pada Nisa
seutuhnya” tutur ibu dengan penuh santun.
“Syukur,
Alhamdulillah jika ibu menerimanya. Lalu, bagaimana, Nis?” sambung Ibu Ilham.
“Bagaimana, Nak?”
tanya Ibu kembali.
Aku hanya menunduk
malu dan menganggukan kepala tanda persetujuanku
“Alhamdulillah”
jawab seisi ruangan dengan serentak
***
Sebelum diijab
kabulkan
Syari’at tetap
membatasi
Pelajari imu rumah
tangga
Agar kelak lebih
bersedia
Sebait lagu
miliknya Hijaz yang bersenandung dari ponselku, menemani di malam
berbahagia ini. Malam, setelah ikrar yang dilafadzkan oleh Ilham di depan Allah
dan khalayak ramai. Mengikat janji suci dalam indahnya pernikahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar