Kamis, 01 Oktober 2015

Rindu yang Membelenggu





           

 “Ya Allah…Aku merindukannya” kalimat yang tanpa sadar aku ucapkan.
            “Astaghfirullahaladzim…” ucapku yang baru tersadar dari lamunan yang sedari menunggu selesainya adzan berkumandang untuk melaksanakan sholat Maghrib. Dan seketika itu aku menengadahkan tanganku ke atas seraya berdoa, karena menurut sebuah Hadits bahwa doa diantara adzan dan iqomah adalah salah satu waktu yang Mustajab.

            Rindu itu adalah anugerah dari Allah,
insan yang berhati nurani punyai rasa rindu.
Rindu pada kedamaian,
rindu pada ketenangan,
rindukan kesejahteraan dan juga kebahagiaan. 
Salah satu lirik lagu dari miliknya Hijaz yang menemaniku di saat hati ini benar-benar tengah terkoyak oleh kerinduan. Tapi, yang aku rasakan adalah rindu pada dia, dirinya yang belum halal untukku. Yang telah aku perjuangkan kembali niat awalku dahulu, tak akan pacaran sebelum menikah.
            “Kayaknya Ka Aziz suka kamu deh Nis” celetuk Dinasalah satu sahabatku setelah mendengar percakapanku di telepon tadi bersama Ka Aziz.
            “Ihh…ngaco kamu! Ga mungkinlah dia suka aku” Jawabku santai sembari merapihkan buku-buku yang berserakan.
            “Ketahuanlah Nis, ka Aziz itu on time banget telepon kamu dan beda banget deh pokoknya. Kalau dia suka benaran sama kamu gimana hayoo?” tutur Dina sambil meledek
            “Aku kan ga mau pacaran lagi Na, mau langsung dihalalkan aja” jawabku pasti
            “Ya udah cepat-cepat aja minta dihalalkan” sambung Dina
            “Aku kan masih kecil” jawabku sembari tertawa lepas, serasa tak ada beban
            “Annisa sayang, kamu itu kebiasaan deh jawabnya anak kecil aja, adik-adik kelas kita aja udah pada nikah, awas loh hati –hati! Gak disangka-sangka eh kamu duluan yang nikah sebelum aku, Hahahaha” balas Dina
            “Ihh ada-ada aja, sok silahkan kamu aja duluan” sambungku sambil menopangkan dagu.
            “Kamu itu mau yang seperti apa sih, Nis? yang ini itu gak mau, kan kasihan mereka-mereka yang kamu tolak” Tanya Dina dengan mimik muka serius
            “Dina...Lebih baik menunggu orang yang tepat, dari pada  menghabiskan hidup bersama orang yang belum tentu halal untukku. Aku ingin melanjutkan impianku dulu aja, yang gak akan pacaran sebelum aku halal untukknya, itu pun jika aku mampu, karena aku juga udah pernah gagal karena satu tahun yang lalu aku pacaran meski hanya satu bulan dan hanya 3 kali bertemu saja, itu pun hanya di dalam kelas. Pernikahan itu bukan hal yang main-main, pernikahan untuk seumur hidup kita, bahkan yang menentukan akhirat kita juga kan. Makanya aku cari orang yang bisa mengimamiku dunia dan Akhirat, kita suka baca-baca status di FB Page kan, jika Syurganya seorang istri itu ada pada Suami, dan Istri Solehah itu adalah Calon Ratu Bidadari Syurga. Jujur, aku tuh takut banget sama siksa Allah, makanya aku ingin ada orang yang membimbingku menuju Syurga-Nya” tuturku menjelaskan pada Dina
            “Iya Bu Ustadzah…Pokoknya kalah deh aku” balas Dina sambil menundukan kepala, seolah-olah seorang murid yang sedang dinasehati oleh guru
            “Ihh kamu, biasa aja kali Jeung…Hahaha” Sambungku.
***
Malam telah larut, cahaya rembulan pun menghiasi suasana heningnya malam itu yang hanya terdengar suara Jangkrik, serta hembusan angin yang semakin menusuk kalbu. Dina, sudah sedari tadi memejamkan matanya di sampingku, sementara aku masih terjaga dari tidurku, entah mengapa di relung jiwaku yang terdalam merindukan sosok Sang Adam hadir di hadapanku.
            “Astaghfirullahaladzim, ya Allah…Mengapa rasa ini tak kunjung lenyap? Padahal setiap malam aku meminta kepada-Mu agar KAU lenyapkan rasa yang belum sepatutnya ini, apa ini cinta? Atau hanya sekedar tipu belaka dari Syetan? Malam ini aku tak bisa berbincang dengan-Mu” gumamku dalam hati sambil membolak-balikan tubuhku di tempat tidur.
            Jam sudah menunjukan pukul 01.35 dini hari, dan tak lama kemudian terdengar suara getaran dari Handphoneku yang pertanda ada pesan masuk, dan ternyata sebuah pesan dari Ilham
            “Tahajud” isi pesan singkatnya padaku
            “Iya ka makasih, tapi aku lagi ga sholat” Jawabku pada isi pesan tersebut.
Dan seketika itu tak ada lagi balasan darinya, dan entah mengapa tiba-tiba setetes air mata terjatuh, membasahi pipiku, dan ketika tetesan air mata itu jatuh, aku tak mampu untuk mengentikan deraiannya hingga Dina pun yang tertidur pulas, kini terbangun karena mendengar isak tangisku, meski aku bersembunyi di balik bantal guling karena aku tak ingin Dina tahu kalau aku sedang menangis.
            “Nis, kenapa? Ko nangis malam-malam gini?” Tanya Dina yang waktu itu masih mengucek-ngucek matanya karena baru terbangun dari tidurnya yang lelap.
            Namun aku hanya diam seribu bahasa, dan sambil menahan isak tangisku yang semakin menjadi.
            “Kenapa Nis?, kamu tenangin dulu ya” Tanya Dina lagi seraya merangkulku.
            Sesaat, aku mulai tenang, dan sedikit demi sedikit aku jelaskan kenapa bisa menangis tersedu sedan seperti ini.
            “Aku, aku gak tahu kenapa bisa seperti ini. Aku merindukan seseorang” tuturku yang masih menahan isak tangis itu
            “Ya ampun Nis, jadi kamu nangis gara-gara rindu sama orang aja? Hahahha” tanyanya seolah tak percaya padaku sambil tertawa
            “Ko ketawa sih, memangnya badut ya diketawain” balasku
            “Kamu itu lucu sih, dasar kali ya orang yang lagi jatuh cinta memang aneh semuanya juga, memang siapa sih cowoknya? Kak Aziz ya?” tanyanya penasaran
            “Bukan” jawabku singkat
            “Hah? Bukan, lalu siapa dong? Setahu aku kamu paling sering contact-an sama dia” tanyanya lagi penasaran.
            “Iya memang, Ka Aziz juga orang yang baik banget, dia ga pernah marah sama aku ketika aku ngambek, tapi aku Cuma anggap dia kakak, lagipula dia bilang sama aku, kalau dia masih jauh banget untuk ke jenjang pernikahan, dia masih ngejar karir” jawabku
            “Lalu siapa Nis? Kamu buat penasaran aja” Tanya Dina yang semakin penasaran
            “Kak Ilham, teman Suaminya Mila yang dikenalin sama aku satu satu tahun yang lalu” jawabku jelas
            “Oohhh dia tohh, iya aku ingat. Tapi bukannya kata kamu dia itu Jaim banget” tanyanya lagi
            “Iya memang, awalnya aku biasa aja. Gak punya rasa apa-apa. Cuma aku tersentuh cerita-cerita Mila dan suaminya kalo dia itu memang taat pada agama. Apalagi mereka ngomporin aku supaya jadi sama dia, katanya dia suka sama aku semenjak satu tahun yang lalu, karena menurutnya aku cewek Sholeh. Hahaha, padahal apanya kali ya yang sholehah, waktu lebaran tahun lalu juga dia ngajak aku ketemuan di rumah Mila, Cuma aku yang gak mau, tahu sendiri sikapku bagaimana dengan orang yang belum aku kenal bgt. Udah satu bulan aku rasain hal ini, Cuma kemarin-kemarin aku masih bisa mengatasinya, tapi sekarang aku tak lagi mampu untuk membendungnya” tuturku
            “Terus sekarang gimana sama dia?” Tanya Dina
            “Masih sering Sms-an. Tapi kalau masalah dia masih suka sama aku atau gak nya, aku kurang tahu, aku kan cewe Na, masa aku yang agresif dan mau dikemanakan kodratku sebagai wanita Muslimah” ujarku
            “Hmmm, lalu kalau kamu tahu dia benaran masih suka kamu gimana? Mau pacaran dong” ejek Dina
            “Gak tahu, mungkin gak. Karena dia sendiri usianya udah matang untuk menikah dan sekarang dia lagi cari calon istri, padahal juga banyak yang suka sama dia” sambungku
            “Nah, kalau kamu yang dipilih jadi calon istrinya gimana?” ucap Dina
            “Aku masih kecil” jawabku singkat
            “Ihh, mulai deh kumat penyakitnya bilang anak kecil lagi” keluh Dina
            “Hmm, aku benaran gak tahu, aku bingung. Aku belum siap dan takut belum bisa jadi Istri Solehah, mungkin untuk saat ini cukup mencintainya dalam diam” ucapku
            “Ya udah lah. Siapapun nanti jodohnya, semoga dia yang terbaik dan bisa membimbing kamu menuju Syurga, itu kan maunya? Tanya Dina
            “Iya Aamiin, makasih Na. Semoga impian kamu pun tercapai ya, 5 bulan lagi kan dihalakannya” balasku
            “InsyaAllah, ya udah yuk sekarang kita tidur lagi” ajak Dina.
Aku hanya menganggukan dagu.
"Ya Allah, kutitipkan salam rindu ini kepada-MU. Jika memang dia tercipta untukku, mudahkanlah segala perkaranya dan jaga dia untukku. Tapi jika dia bukan untukku, lumpuhkanlah ingatanku tentangnya, pudarkanlah bayangannya dalam benakku dan jadikanlah aku ikhlas atas apa yang KAU gariskan untukku, Aamiin" Do'aku dalam hati sembari memejamkan kedua mata, meski dada ini masih amat terasa sesak karena cinta yang tak tersampaikan.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar