Adzan
pun telah berkumandang di pagi yang masih buta itu, diam membisu hening tanpa
kata, hanya suara Muadzin yang terdengar dari daun telinga, pada saat itu
pulalah Nisa yang sedari tadi masih terlelap dari tidurnnya tiba-tiba
terbangun, seolah ada sesuatu yang memaksanya untuk segera bangkit dari tempat
pembaringan. Ya…itulah suara adzan yang telah memanggilnya, panggilan Allah
yang harus diutamakan, apa pun yang sedang kita lakukan saat itu. Rasulullah
saw. Bersabda “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat”
“Na, Dina…bangun…udah subuh” ucap
Nisa pada teman satu kost-annya yang masih asyik tidur mendengkur bermain
dengan sang bunga tidur.
“Hmmm…aku masih ngantuk Ca…”
balasanya sambil menarik kembali selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
“Ayo ihhh cepat!” sambung Nisa yang
mencoba untuk memaksa Dina-temannya itu agar segera beranjak dari tempat
tidurnya, sembari ia pun kembali menarik selimut dan kembali memejamkan
matanya.
“Ya udah aku bangun, tapi ko kamu
mau tidur lagi?” Tanya Dina sambil mengucek-ngucek kedua matanya itu.
“Udah, cepat sholat aja dulu!” balas
Nisa dan langsung menarik selimut hingga menutupi seluruh tubhnya.
***
Jam telah menunjukan pukul 10.30 dan
tentunya fajar pun telah menyingsing, namun sang mentari masih malu-malu
membiaskan cahayanya ke Permukaan bumi, ia hanya bersembunyi dibalik awan
hitam.
“Ca, Ca…bangun dong…temani aku” ucap
Dina sambil menyentuh lengan Nisa agar ia terbangun
“Aku ngantuk Na” jawabnya singkat
“Kamu kenapa sih, ko jadi berubah
180 derajat gini? Suka tidur di waktu subuh? Kan kamu yang bilang tidur di
waktu subuh-terbitnya fajar itu jauh dari Rizki, nanti dipatok ayam lagi, udah
3 hari juga kamu ga mandi pagi dan ga sholat Dhuha. Jorok kamu, ada apa sih?”
Tutur Dina sambil terus mengoceh dan membereskan baju-bajunya yang berserakan.
Lalu Nisa pun akhirnya bangkit dari tidurnya, dan duduk sambil merapihkan
jilbabnya yang ia pakai saat tidur.
“Lagi Krisis Iman” Jawabnya singkat
“Hah...Krisis iman kenapa? Parah
kamu iman aja ada krisisnya!” balas Dina
“Aku juga ga tau, males berbuat
apa-apa, maunya ya gini aja. Aku juga miris udah ninggalin banyak kebiasaanku,
tapi syukurnya kalau mendengar adzan berkumandang, aku masih takut, dan segera
menyegerakan sholat, tapi itu pun diterima atau tidak oleh Allah, liat kan
sholat aku, secepat kilat seperti Abuya, tanpa dzikir dan doa, lalu langsung
melipat sejadah” Keluh Nisa
“Iya aku tahu, Kamu itu kalau ada
masalah jadi super males dan harus rajin-rajin dengerin motivasi dari orang
supaya cepat tergugah. Sebenarnya ada apa? Patah hati tah?” tebak Dina
Namun
Nisa hanya menggelengkan kepala, lalu memeluk Dina dan menangis
sejadi-sejadinya.
“Ca, ada apa?” Tanya Dina terkejut
saat tiba-tiba temannya itu menangis tersedu sedan.
“Udah ya Ca, tenangin dulu” ucap
Dina sambil merangkulnya.
Sesat
setelah Nisa tak lagi menderaikan air matanya, Ia pun menjelaskan apa yang
telah terjadi pada dirinya.
“ Aku benci sama diriku sendiri,
kenapa aku jadi perasa begini. Suka sama Ka Ilham yang hanya menganggapku tak
lebih sebagai adiknya dan aku pun udah berjanji ga akan lagi pacaran sampai aku
menikah nanti” keluh Nisa
“Tak ada yang salah dengan perasaan
Ca, cinta itu kan fitrah. Udah selayaknya kalau kamu itu suka sama orang,
berarti itu tandanya kamu udah normal, Hahaha…” Tutur Dina menjelaskan sambil
menyelipkan tawa agar Nisa terhibur
“Ihhh, gila kamu! Memangnya selama
ini aku ga normal” balas Nisa sambil merajuk manja pada temannya itu.
“Iya iya just Kiding ko. Lagi pula
susah loh jaman sekarang itu menikah tanpa pacaran sebelumnya. Dan kamu itu
betah banget sih jadi jomblo, ga risih apa? Mau berapa banyak cowok lagi yang
jadi korban penolakan kamu? Kenapa kamu ga pilih salah satu dari mereka? Dari
pada berharap sama orang yang ga jelas seperti ka Ilham itu” tutur Dina
“Aku takut aja kalau pacaran ga bisa
mengontrol diri. Aku juga sadar dan tak dipungkiri, aku ingin dapat perhatian
lebih, apalagi kamu tahu kalau aku ini memang orang yang manja. Hanya saja aku
takut, dan sepengetahuanku diantara mereka masih meninggalkan sholat. Dan
kalaupun nanti akhirnya aku pacaran, itu pun untuk ke jenjang yang serius, aku
ga mau banyakin mantan” balas Nisa
“Iya Ca, tapi mau yang seperti apa?
Tanya Dina semakin bingung
“Aku sendiri tak banyak menuntut,
cukup dia rajin sholat 5 waktu dan bisa bimbing aku menuju Ridho Ilahi.
Sungguh, aku takuit dengan siksa api Neraka, dan itu lah salah satu caranya,
taat dan patuh pada suami kita kelak nanti. Rasulullah pun bersabda kan “Jika
aku dibenarkan untuk memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain,
niscaya aku perintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya” HR.
Tarmidzi & Ibnu Hibban. Saking tingginya derajat suami dimata istrinya
Rasulullah mengibaratkan seperti itu, syurga istri ada pada suami, dan kamu jug
tahu jika istri solehah itu calon ratu bidadari Syurga, kalau Suami kita ga
rajin sholat 5 waktu, bagaimana dia bisa mengimami kita dalam sholat dan
kehidupan sehari-hari” jawab Nisa sambil menjelaskan.
“Iya Ca, lalu kamu sendiri bagaimana
sekarang? Aku ga tega juga lihat temanku galau tingkat nasional dan hanya
bermalas-malasan aja” sambung Dina
“Aku suka Ka Ilham karena agamanya
dan aku udah ga lagi berharap sama dia, aku udah belajar untuk ikhlasin dia.
Aku juga ga habis pikir kenapa jadi seperti ini, padahal dulu aku yang acuhkan
dia” keluh Nisa
“Udahlah, ga usah disesali ya…Allah
udah siapin orang yang lebih baik dari dia untuk kamu” balas Dina
“Aamiin, nanti kita cari film yang
bisa memotivasi atau ga… cari cowo aja. Hahaha” ajak Nisa. Dina pun tertawa.
“Iya aku setuju kalau kamu cari cowo
untuk serius, dosen kita aja yang menikah kemaren, pacarannya 8 tahun tuh dari
semasa SMA dulu. Kalo kamu kan sekarang kamu udah dewasa, jadi bisa
dipertahankan tuh” Usul Dina
“Yeah…aku masih kecil, tapi
bagaimana nanti deh” balas Nisa.
Nisa
pun akhirnya kembali melukiskan senyuman bersama Dina- sahabat karibnya, dan
tak terasa Dzuhur pun telah tiba karena adzan telah berkumandang, dan seraya
itu pula lah Nisa segera bergegas mengambil air wudhlu dan menunggu adzan
selesai dikumandangkan di atas hamparan sajadah. Setelah adzan telah selesai
dikumandangkan, Nisa mengangkat tangannya, menengadahkan ke atas seraya berdoa,
meminta kepada Sang Ilahi
“Ya Allah, Ya Rabbii…tetapkan
iman islamku dimanapun dan bagaimanapun keadaanku, serta buatlah aku ikhlas
atas apa yang telah KAU gariskan untukku” doanya dalam hati sambil
memejamkan mata setelah sebelum dan sesudah doanya diselipkan sholawat atas
Nabi, agar doa yang dipanjatkan tidak menggantung antara langit dan bumi. Serta
menurut salah satu hadits HR. Nasa’I & Ibnu Hibban dan lainnya bahwa “doa
diantara adzan dan iqomah tidak akan ditolak”.
***
Purnama telah tiba, menerangi malam
di gelap gulita, bintang-bintang yang berkerlip di angkasa raya menyuguhkan
keindahan bintang terbesar di galaksi, begitu Kuasanya Allah yang telah
menciptakan semuanya. Dina yang sedari tadi asyik berfacebook ria dengan
Notebooknya sambil tertawa cekakak-cekikik. Sementara Nisa yang masih asyik
membongkar tas ranselnya yang menjadi favoritenya setiap saat ia pergi, mencari
suatu benda yang begitu bergarga dan akhirnya ia pun menemukannya, sebuah gelang
tasbih kayu Kaokah yang berjumblah 33 biji yang konon katanya dulu selalu
dipakai oleh Para Sahabat Nabi, Gelang Tasbih yang telah satu tahun lalu dia
beli di suatu toko kitab. Yang selalu ia pakai untuk berdzikir setelah sholat
dan selalu ia kenakan di pergelangan tangan kanannya kemana pun ia pergi.
“Alhamdulillah akhirnya ketemu juga,
udah lama aku ga pake ini” ucapnya serius sambil mengenakan kembali Gelang
tasbih tersebut.
“Apaan Ca?” Tanya Dina yang masih
asyik berfacebook ria
“Ini itu loh Gelang tasbihku dulu
yang selalu aku pakai tasbih setelah sholat serta yang selalu aku pakai kemana
pun aku pergi , tapi semenjak aku baca di facebook kalau katanya Rasulullah
Saw. Dulu selalu berdzikir dengan menggunakan jari tangannya sendiri, karena
pada hari akhir nanti akan menjadi saksi” tutur Nisa
“Ooh gitu ya Ca?” Tanya Dina serius
pada Nisa
“Iya Na, makanya aku malas pakai
tasbih. Tapi setelah berjalannya waktu jadi malas kalau dzikir dihitung pakai
jari tangan sampai akhirnya aku krisis iman seperti ini, malas untuk berdzikir
apa-apa” jawab Nisa
“Iya juga ya Ca, kalau aku sih
dzikirnya pakai tasbih biasa aja yang
berjumblah 99 buah itu” sambung Dina
“Ya semuanya sama aja sih Na,
tergantung niat kita toh, tapi kalau aku kan lebih nyaman pakai yang kecil yang
biasa aku kenakan di pergelangan tangan kananku” balas Nisa.
Malam
telah larut, jam telah menunjukan pukul 23.45 wib. Dan saat itu Nisa masih
terjaga dari tidurnya yang sedari tadi berfacebook ria mendownload foto-foto
islami yang ada di FB page islami jua sembari ditemani lagu Nasyid miliknya
Hijjaz yang berjudul Fatamorgana.
Begitu indah dunia
Siapapun
kan tergoda
Harta
pangkat dan wanita
melemahkan
jiwa
tanpa
iman dalam hati
kita
‘kan dikuasai
syetan
nafsu dalam diri
musuh
yang tersembunyi.
Sepotong
penggalan dari liriknya yang menentramkan hati
“Alhamdulillah
ya Allah, melalui gelang tasbih ini KAU berikan hidayah-MU kepadaku, imanku
menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku tak butuh lagi seseorang untuk menjadi
penyemangatku sebagai perantara dekatnya diriku kepada-MU, seseorang yang belum
tentu halal untukku, karena cinta-MU telah lebih cukup dari segalanya, biarlah
kelak nanti cinta ini akan terpaut kepada seseorang yang hatinya penuh dengan
bilangan cinta-Mu, yang mencintaiku karena agamaku, yang mampu menjadi Imamku
dalam sholat, di dunia juga di akhirat kelak, yang mampu menuntunku menuju
syurga-MU, yang menjadikan Para Bidadari Syurga cemburu kepadaku, karena istri
solehah tersendiri itu adalah calon Ratu Bidadari Syurga, Rabbii hablii min
ladunka zaujan thayyiban wayakuuna shahiiban lii fid diini waddunya wal akhirat”
Doa
Nisa dalam hati ketika ia telah berwudhlu untuk beranjak tidur seraya memjamkan
kedua matanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar