Kamis, 01 Oktober 2015

Krisis Iman




Adzan pun telah berkumandang di pagi yang masih buta itu, diam membisu hening tanpa kata, hanya suara Muadzin yang terdengar dari daun telinga, pada saat itu pulalah Nisa yang sedari tadi masih terlelap dari tidurnnya tiba-tiba terbangun, seolah ada sesuatu yang memaksanya untuk segera bangkit dari tempat pembaringan. Ya…itulah suara adzan yang telah memanggilnya, panggilan Allah yang harus diutamakan, apa pun yang sedang kita lakukan saat itu. Rasulullah saw. Bersabda “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat”
            “Na, Dina…bangun…udah subuh” ucap Nisa pada teman satu kost-annya yang masih asyik tidur mendengkur bermain dengan sang bunga tidur.
            “Hmmm…aku masih ngantuk Ca…” balasanya sambil menarik kembali selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
            “Ayo ihhh cepat!” sambung Nisa yang mencoba untuk memaksa Dina-temannya itu agar segera beranjak dari tempat tidurnya, sembari ia pun kembali menarik selimut dan kembali memejamkan matanya.
            “Ya udah aku bangun, tapi ko kamu mau tidur lagi?” Tanya Dina sambil mengucek-ngucek kedua matanya itu.
            “Udah, cepat sholat aja dulu!” balas Nisa dan langsung menarik selimut hingga menutupi seluruh tubhnya.

***
            Jam telah menunjukan pukul 10.30 dan tentunya fajar pun telah menyingsing, namun sang mentari masih malu-malu membiaskan cahayanya ke Permukaan bumi, ia hanya bersembunyi dibalik awan hitam.
            “Ca, Ca…bangun dong…temani aku” ucap Dina sambil menyentuh lengan Nisa agar ia terbangun
            “Aku ngantuk Na” jawabnya singkat
            “Kamu kenapa sih, ko jadi berubah 180 derajat gini? Suka tidur di waktu subuh? Kan kamu yang bilang tidur di waktu subuh-terbitnya fajar itu jauh dari Rizki, nanti dipatok ayam lagi, udah 3 hari juga kamu ga mandi pagi dan ga sholat Dhuha. Jorok kamu, ada apa sih?” Tutur Dina sambil terus mengoceh dan membereskan baju-bajunya yang berserakan. Lalu Nisa pun akhirnya bangkit dari tidurnya, dan duduk sambil merapihkan jilbabnya yang ia pakai saat tidur.
            “Lagi Krisis Iman” Jawabnya singkat
            “Hah...Krisis iman kenapa? Parah kamu iman aja ada krisisnya!” balas Dina
            “Aku juga ga tau, males berbuat apa-apa, maunya ya gini aja. Aku juga miris udah ninggalin banyak kebiasaanku, tapi syukurnya kalau mendengar adzan berkumandang, aku masih takut, dan segera menyegerakan sholat, tapi itu pun diterima atau tidak oleh Allah, liat kan sholat aku, secepat kilat seperti Abuya, tanpa dzikir dan doa, lalu langsung melipat sejadah” Keluh Nisa
            “Iya aku tahu, Kamu itu kalau ada masalah jadi super males dan harus rajin-rajin dengerin motivasi dari orang supaya cepat tergugah. Sebenarnya ada apa? Patah hati tah?” tebak Dina
Namun Nisa hanya menggelengkan kepala, lalu memeluk Dina dan menangis sejadi-sejadinya.
            “Ca, ada apa?” Tanya Dina terkejut saat tiba-tiba temannya itu menangis tersedu sedan.
            “Udah ya Ca, tenangin dulu” ucap Dina sambil merangkulnya.
Sesat setelah Nisa tak lagi menderaikan air matanya, Ia pun menjelaskan apa yang telah terjadi pada dirinya.
            “ Aku benci sama diriku sendiri, kenapa aku jadi perasa begini. Suka sama Ka Ilham yang hanya menganggapku tak lebih sebagai adiknya dan aku pun udah berjanji ga akan lagi pacaran sampai aku menikah nanti” keluh Nisa
            “Tak ada yang salah dengan perasaan Ca, cinta itu kan fitrah. Udah selayaknya kalau kamu itu suka sama orang, berarti itu tandanya kamu udah normal, Hahaha…” Tutur Dina menjelaskan sambil menyelipkan tawa agar Nisa terhibur
            “Ihhh, gila kamu! Memangnya selama ini aku ga normal” balas Nisa sambil merajuk manja pada temannya itu.
            “Iya iya just Kiding ko. Lagi pula susah loh jaman sekarang itu menikah tanpa pacaran sebelumnya. Dan kamu itu betah banget sih jadi jomblo, ga risih apa? Mau berapa banyak cowok lagi yang jadi korban penolakan kamu? Kenapa kamu ga pilih salah satu dari mereka? Dari pada berharap sama orang yang ga jelas seperti ka Ilham itu” tutur Dina
            “Aku takut aja kalau pacaran ga bisa mengontrol diri. Aku juga sadar dan tak dipungkiri, aku ingin dapat perhatian lebih, apalagi kamu tahu kalau aku ini memang orang yang manja. Hanya saja aku takut, dan sepengetahuanku diantara mereka masih meninggalkan sholat. Dan kalaupun nanti akhirnya aku pacaran, itu pun untuk ke jenjang yang serius, aku ga mau banyakin mantan” balas Nisa
            “Iya Ca, tapi mau yang seperti apa? Tanya Dina semakin bingung
            “Aku sendiri tak banyak menuntut, cukup dia rajin sholat 5 waktu dan bisa bimbing aku menuju Ridho Ilahi. Sungguh, aku takuit dengan siksa api Neraka, dan itu lah salah satu caranya, taat dan patuh pada suami kita kelak nanti. Rasulullah pun bersabda kan “Jika aku dibenarkan untuk memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya” HR. Tarmidzi & Ibnu Hibban. Saking tingginya derajat suami dimata istrinya Rasulullah mengibaratkan seperti itu, syurga istri ada pada suami, dan kamu jug tahu jika istri solehah itu calon ratu bidadari Syurga, kalau Suami kita ga rajin sholat 5 waktu, bagaimana dia bisa mengimami kita dalam sholat dan kehidupan sehari-hari” jawab Nisa sambil menjelaskan.
            “Iya Ca, lalu kamu sendiri bagaimana sekarang? Aku ga tega juga lihat temanku galau tingkat nasional dan hanya bermalas-malasan aja” sambung Dina
            “Aku suka Ka Ilham karena agamanya dan aku udah ga lagi berharap sama dia, aku udah belajar untuk ikhlasin dia. Aku juga ga habis pikir kenapa jadi seperti ini, padahal dulu aku yang acuhkan dia” keluh Nisa
            “Udahlah, ga usah disesali ya…Allah udah siapin orang yang lebih baik dari dia untuk kamu” balas Dina
            “Aamiin, nanti kita cari film yang bisa memotivasi atau ga… cari cowo aja. Hahaha” ajak Nisa. Dina pun tertawa.
            “Iya aku setuju kalau kamu cari cowo untuk serius, dosen kita aja yang menikah kemaren, pacarannya 8 tahun tuh dari semasa SMA dulu. Kalo kamu kan sekarang kamu udah dewasa, jadi bisa dipertahankan tuh” Usul Dina
            “Yeah…aku masih kecil, tapi bagaimana nanti deh” balas Nisa.
Nisa pun akhirnya kembali melukiskan senyuman bersama Dina- sahabat karibnya, dan tak terasa Dzuhur pun telah tiba karena adzan telah berkumandang, dan seraya itu pula lah Nisa segera bergegas mengambil air wudhlu dan menunggu adzan selesai dikumandangkan di atas hamparan sajadah. Setelah adzan telah selesai dikumandangkan, Nisa mengangkat tangannya, menengadahkan ke atas seraya berdoa, meminta kepada Sang Ilahi
            “Ya Allah, Ya Rabbii…tetapkan iman islamku dimanapun dan bagaimanapun keadaanku, serta buatlah aku ikhlas atas apa yang telah KAU gariskan untukku” doanya dalam hati sambil memejamkan mata setelah sebelum dan sesudah doanya diselipkan sholawat atas Nabi, agar doa yang dipanjatkan tidak menggantung antara langit dan bumi. Serta menurut salah satu hadits HR. Nasa’I & Ibnu Hibban dan lainnya bahwa “doa diantara adzan dan iqomah tidak akan ditolak”.
***

            Purnama telah tiba, menerangi malam di gelap gulita, bintang-bintang yang berkerlip di angkasa raya menyuguhkan keindahan bintang terbesar di galaksi, begitu Kuasanya Allah yang telah menciptakan semuanya. Dina yang sedari tadi asyik berfacebook ria dengan Notebooknya sambil tertawa cekakak-cekikik. Sementara Nisa yang masih asyik membongkar tas ranselnya yang menjadi favoritenya setiap saat ia pergi, mencari suatu benda yang begitu bergarga dan akhirnya ia pun menemukannya, sebuah gelang tasbih kayu Kaokah yang berjumblah 33 biji yang konon katanya dulu selalu dipakai oleh Para Sahabat Nabi, Gelang Tasbih yang telah satu tahun lalu dia beli di suatu toko kitab. Yang selalu ia pakai untuk berdzikir setelah sholat dan selalu ia kenakan di pergelangan tangan kanannya kemana pun ia pergi.
            “Alhamdulillah akhirnya ketemu juga, udah lama aku ga pake ini” ucapnya serius sambil mengenakan kembali Gelang tasbih tersebut.
            “Apaan Ca?” Tanya Dina yang masih asyik berfacebook ria
            “Ini itu loh Gelang tasbihku dulu yang selalu aku pakai tasbih setelah sholat serta yang selalu aku pakai kemana pun aku pergi , tapi semenjak aku baca di facebook kalau katanya Rasulullah Saw. Dulu selalu berdzikir dengan menggunakan jari tangannya sendiri, karena pada hari akhir nanti akan menjadi saksi” tutur Nisa
            “Ooh gitu ya Ca?” Tanya Dina serius pada Nisa
            “Iya Na, makanya aku malas pakai tasbih. Tapi setelah berjalannya waktu jadi malas kalau dzikir dihitung pakai jari tangan sampai akhirnya aku krisis iman seperti ini, malas untuk berdzikir apa-apa” jawab Nisa
            “Iya juga ya Ca, kalau aku sih dzikirnya  pakai tasbih biasa aja yang berjumblah 99 buah itu” sambung Dina
            “Ya semuanya sama aja sih Na, tergantung niat kita toh, tapi kalau aku kan lebih nyaman pakai yang kecil yang biasa aku kenakan di pergelangan tangan kananku” balas Nisa.
Malam telah larut, jam telah menunjukan pukul 23.45 wib. Dan saat itu Nisa masih terjaga dari tidurnya yang sedari tadi berfacebook ria mendownload foto-foto islami yang ada di FB page islami jua sembari ditemani lagu Nasyid miliknya Hijjaz yang berjudul Fatamorgana.
 Begitu indah dunia
Siapapun kan tergoda
Harta pangkat dan wanita
melemahkan jiwa
tanpa iman dalam hati
kita ‘kan dikuasai
syetan nafsu dalam diri
musuh yang tersembunyi.
Sepotong penggalan dari liriknya yang menentramkan hati
“Alhamdulillah ya Allah, melalui gelang tasbih ini KAU berikan hidayah-MU kepadaku, imanku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku tak butuh lagi seseorang untuk menjadi penyemangatku sebagai perantara dekatnya diriku kepada-MU, seseorang yang belum tentu halal untukku, karena cinta-MU telah lebih cukup dari segalanya, biarlah kelak nanti cinta ini akan terpaut kepada seseorang yang hatinya penuh dengan bilangan cinta-Mu, yang mencintaiku karena agamaku, yang mampu menjadi Imamku dalam sholat, di dunia juga di akhirat kelak, yang mampu menuntunku menuju syurga-MU, yang menjadikan Para Bidadari Syurga cemburu kepadaku, karena istri solehah tersendiri itu adalah calon Ratu Bidadari Syurga, Rabbii hablii min ladunka zaujan thayyiban wayakuuna shahiiban lii fid diini waddunya wal akhirat” Doa Nisa dalam hati ketika ia telah berwudhlu untuk beranjak tidur seraya memjamkan kedua matanya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar