Rasulullah
Saw bersabda “ Sekiranya aku dibenarkan untuk memerintahkan seseorang bersujud
kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang istri untuk bersujud kepada
suaminya” HR. Tabrani & Ibnu Hibban.
Langit
yang biru, kini berubah warna menjadi jingga, pertanda senja
telah tiba. Dan tak lama kemudian pun Purnama menyusul, bersama hembusan
sang angin malam yang kian menusuk sembilu. Merekahkan jiwa yang nelangsa,
merindukan cinta yang hakiki dari Sang Pemilik Cinta. Syahdunya lantunan ayat
yang berirama tak mampu dikalahkan oleh syair sang pujangga manapun. Yah,
itulah dia Ayat-ayat-Nya yang wajib kita pelajari sebagiamana salah satu hadits
riwayat Bukhori & Muslim bahwasannya “Sebaik-baik diantara kalian adalah
yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”.
“Ada
yang mau kenal denganmu Nis” ucap Alya—sahabat
karibku sendiri ketika aku tengah asyik memilih sebuah buku di sebuah
perpustakaan.
“Siapa?”
tanyaku sembari menghela nafas
“Ah,
kamu pura-pura tidak tau saja. Banyak laki-laki yang mau kenal denganmu. Kenapa
kamu ga buka sedikit saja hatimu untuk
salah satu dari mereka” tegasnya
“Bukannya
aku ga mau, Al. tapi aku belum siap untuk menghalalkannya” balasku
“Iya,
tapi mau sampai kapan seperti ini. Sahabat-sahabat kita udah pada nikah semua,
termasuk aku juga. Kamu mau cari yang seperti apa lagi. Mereka-mereka semua
udah cukup mapan dan ga jelek-jelek banget” sambungnya
“Usiaku
baru 21 tahun ko. Dan aku ga cari yang bagaimana-bagaimana, cukup yang agamanya
baik aja, yang bisa menjadi Imamku di dunia dan di akhirat kelak dan juga
supaya bisa bimbing aku ke Syurga Allah. Itu aja ko, ga yang muluk-muluk.
InsyaAllah, jika sudah waktunya pasti akan tiba, jodoh itu kan di tangan Allah,
meski pun kita ga pernah punya pacar, Allah udah mempersiapkannya” tegasku
“Yah,
semoga saja kamu mendapatkan seorang laki-laki yang sesuai dengan keinginanmu.
Aku sebagai sahabat hanya bisa mendoakan saja?”
***
Awan
hitam masih setia menemani sang langit sedari tadi pagi, hingga tak ada bedanya
suasana saat senja datang menjemput, dan mulailah setetes demi tetes air turun
dari langit. Yah, itulah hujan. Hujan yang membuat seluruh permukaan
bumi ini menjadi basah, bunga-bunga pun mulai kuncup kembali, bermekaran dengan
harum yang semerbak.
Aku
pun tak bisa beranjak kemana-mana dari tempat tinggalku, di sebuah kost, dan
memang hari ini pun adalah hari liburku untuk mengajar di sebuah lembaga
pendidikan. Tak lama kemudian, terdengar suara ponselku berdering. Dan ternyata
sebuah panggilan dari Ibuku.
“Assalamualaikum”
terdengar suara wanita separuh baya dari barang elektronik yang sudah mendarah
daging bagi manusia ini.
“Waalaikumussalam”
jawabku singkat
“Apa
kabar nak, disana?” tanyanya
“Alhamdulillah
Bu, Nisa baik-baik saja. Kabar Ibu dan Ayah serta saudara-saudara di sana
bagaimana?” tanyaku kembali
“Alhamdulillah
kami juga di sini baik-baik saja”
“Alhamdulillah,
syukurlah kalau begitu”
“Kamu bisa pulang sejenak ke rumah. Ada hal
penting yang ingin Ibu dan Ayah sampaikan”
“Ooh
iya Bu. Nisa akan pulang saat ini juga”
Saat
itu pula, komunikasi antara aku dan Ibu terputus.
***
Tanpa
pikir panjang lagi, aku langsung bergegas untuk pulang ke rumah. Memenuhi
permintaan Ayah dan Ibuku.
Ketika
aku sampai di rumah, keadaan di sana terlihat ramai tak seperti biasanya. Ternyata,
ada tamu, seorang laki-laki yang berperawakan tinggi dan rapi dengan kemeja dan
celana yang dikenakan yang didampingi seorang laki-laki dan wanita separuh
baya. Aku pun langsung dipersilahkan duduk oleh Ibu dan Ayahku setelah aku bersalaman
terlebih dahulu kepada semuanya.
“Nisa.
Kenalkan, ini Bapak Surya beserta Istrinya—sahabat
Ayah waktu kecil. Dan di sampingya adalah Putra sulungnya, Ilham namanya dan
dia baru saja menyelesaikan kuliah S2 nya di Al-Azhar Mesir” ucap Ayah sembari
memperkenalkan ketiga orang tamu itu.
Aku
pun hanya tersenyum simpul kepada mereka
“Jadi,
maksud kedatangna kami ke sini. Ingin memperat tali persaudaraan dengan
menjodohkan Ilham—Putra sulung kami,
dengan Nisa—Putri Bungsu Pak Hadi” tegas
seorang pria separuh baya itu. Aku hanya menundukan kepala, tak mampu untuk
menatap mata-mata mereka yang kini tertuju padaku serta dadaku pun berdebar
kencang tak terkendali.
“Saya
pribadi sangat berharap. Tapi, ini semua anak-anak kita yang nantinya akan menjalankan.
Bagaimana kalau kita kasih kesempatan dahulu kepada mereka untuk saling
mengenal selama satu bulan ini, Ta’aruf dulu saja. Dan jika memang cocok
Alhamdulillah kita lanjutkan” tutur Ayah yang membuat debar jantungku mereda.
Akhirnya,
kami pun berta’aruf selama satu bulan ini. Yah, semoga saja dia adalah
seseorang yang dikirimkan Allah untukku.
***