Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak
perempuanmu, dan perempuan-perempuan yang beriman, “Hendaklah merka mengulurkan
Jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah
untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, lagi
Maha Penyayang. (QS; AL-Ahzab;
59).
“Fatimah” Panggil gadis berkerudung hitam yang menjulur hingga
menutupi dada, dengan sebuah bros bebentuk bunga menghiasi jilbabnya yang
menjadikannya semakin anggun, sepadan dengan baju jubah berwarna coklat yang
dikenakannya hari itu. Sungguh anggun, laksana Anna Althafunnisa dalam film
Ketika Cinta Bertasbih.
“Iya. Ada apa, An?” tanya Fatimah.
“Antar aku beli buku sepulang bimbingan nanti, yuk!” ucap gadis
yang menggemari kerudung berwarna hitam itu.
“Ayo. Sekalian beli kerudung tuh! Jangan warna hitam saja yang
dikoleksi. Bisa jadi orang mengira kamu tak pernah ganti kerudung loh, An!”
tutur Fatimah.
Namun, Anna hanya tersenyum menyeringai.
“Ihhh! senyum lagi” celoteh Fatimah yang kerudungnya dililit-lilit
menjadi, seperti modelnya para muslimah yang kini tengah menjaman dengan jilbab
trendi. Tak lagi syar’i seperti yang dianjurkan islam.
“Iya, nanti lain kali saja. Jika aku sudah ada hasrat berpaling ke
warna selain hitam, Fatimah” balas Anna.
“Kamu masih betah saja memakai jilbab besar, An. Tidak tertarik kah
dengan model-model kerudung yang dililit seperti aku dan kebanyakan muslimah
yang lainnya?” tanya Fatimah.
“Loh, kenapa tiba-tiba saja bertanya seperti itu?” tanya balik Anna.
“Aku hanya sekedar ingin mengetahuinya saja. Pribadiku sendiri, aku
tak mampu menahan godaan jilbab trend sekarang ini”
“Yah, sebenarnya. Aku pribadi, senang juga kok lihat jilbab trend
sekarang. Kamu tahu sendiri, kan. Aku ini suka yang simple-simple aja. Gak suka
yang berbelit-belit, memakai kerudung seperti itu harus membutuhkan waktu yang
lumayan lama. Ditambah aku ini bukan tipe orang yang penyabar. Lagipula, yang
syar’i seperti ini lebih nyaman dipakai. Tapi, menurutku. Jilbab yang aku
kenakan ini tidak terlalu syar’i seperti akhwat dan Anna Althafunnisa, hanya
sekedarnya saja menutupi dada” tutut Anna sembari membuka lembaran demi
lembaran bukunya.
“Wah, sungguh kamu itu…” ucap Fatimah yang tak menyelesaikan
perkataannya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
“Apa hayoo?” tanya Anna sembari menutup buku yang tengah dibacanya.
“Seperti Anna Althafunnisa” jawab Fatimah singkat sembari tersenyum.
“Namaku Anna Azhariah. Bukan Anna Althafunnisa. Lagipula, sangat
jauh perbedaanya. Seperti langit dan bumi. Beliau itu subhanallah, sungguh
wanita muslimah. Sementara aku, bukan orang penyabar dan sangat sensitive. Maka
dari itu, aku selalu berdoa, supaya kelak nanti aku dijodohkan dengan seseorang
yang penyabar, serta mampu menuntunku menuju syurga-Nya” tutur Anna.
“Aamiin. Aku sungguh terharu mendengar penjelasanmu, An”
Anna hanya tersenyum manis kepada sahabatnya tersebut.
***
Langit mulai berwarna jingga, memancarkan pesona yang menggelora.
Yah, senja selalu menjadi pesona di sore hari.
Gadis berkerudung berwarna hitam itu Nampak tengah membawa
sekantong plastik yang berisi buku dan kaset film religi yang dibelinya tadi
siang bersama Fatimah. Karena keadaan langit saat itu tertutupi oleh sang mega.
Hingga langit pun tak lagi mampu untuk menahan deraiannya. Alhasil, langit pun
menangis. Rinainya membasahai bumi pertiwi hingga tetesannya pun masih terasa
saat senja tiba.
Anna melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit. Mempercepat
langkahnya karena takut kemalaman tiba di rumah. Saat Anna, melangkahkan
kakinya sembari merapihkan buku ke dalam tasnya. Dia pun ambruk menabrak
sesosok onggokan daging. Yah, seorang Adam.
“Maaf, maaf. Saya tidak melihat” ucap Anna penuh rasa salah sembari
membetulkan kerudungnya, yang lalu melihat siapa yang tengah ditabraknya itu.
Lantas, tanpa sadar tatapannya saling tertuju satu sama lain. Lekat, penuh
makna.
“Astaghfirullahal adzim” ucap Anna ketika tersadar dan bersegera
menundukan pandangannya.
“Saya yang minta maaf” ucap sesosok lelaki berperawakan tinggi,
berkemeja abu-abu dan bercelana jeans itu. Yang sekilas dalam pandangan Anna
terlihat begitu sempurna, meski di awal pertama jumpa.
“Iya. Maaf. Permisi, saya pergi terlebih dahulu” ucap Anna yang
pandangannya masih tertunduk dan segera melangkahkan kakinya itu.
Lelaki itu pun terus menelusuri jejak demi jejaknya Anna. Hingga
bayangannya luput dari pandangan matanya. Selintas, lelaki itu mengulas senyum
manis ketika kepergian Anna. Kini, pandangan lelaki itu tertuju pada benda
kecil yang terserak di jalan tadi. Yah, sebuah buku catatan milik Anna
tertinggal di sana. Buku yang dipenuhi dengan puisi-puisinya, serta tentang
kehidupannya.
Lalu dia pun meraih buku itu, dan membawa pulang bersamanya. Terus
dalam genggamana lelaki tersebut. Yah, sesosok lelaki yang fisiknya sangat
dimimpikan Anna. Berperawakan tinggi dan meneduhkan hati pada jumpa pertamanya.
Entahlah, mungkin karena agamanya.
Lembar demi lembar buku catatan itu dibukanya, dibaca dengan
seksama, dipenuhi kata demi katanya. Sesekali wajahnya pun dihiasi senyum
manis. Meski tak semua lembaran dibacanya, karena sifatnya yang pribadi. Hanya
lembaran yang berisikan sajak dan syair saja yang tengah dikupas habis olehnya.
***
Pagi itu, mentari tersenyum ramah pada dunia. Hingga sinarnya pun
masih terasa hangat, membiaskan pada tetesan hujan bekas kemarin di dedaunan.
“Aduh. Buku aku mana ya?” ucap Anna sendiri di kamar sembari
mencari-cari dimana letak buku itu berada.
“Anna…” terdengar suara wanita separuh baya dari luar kamarnya,
yang tak lain adalah Ibunya sendiri.
“Iya, Bu” balas Anna sembari menghampiri asal suara itu.
Pagi ini Anna hanya di rumah. Karena ini hari minggu, hari libur
untuk kuliah dan mengajar.
“Ada apa, Bu?” tanya Anna.
“Ada tamu di depan. Tolong buatkan minum untuk mereka ya, Nak. Ibu
mau menemaninya, tak enak kalau dianggurkan terlalu lama” jawab Ibu.
Anna pun hanya mengangguk, dan Ibu bergegas menuju tamu yang tengah
berada di runag tamu bersama Ayahnya sejak tadi.
Beberapa saat kemudian, Anna datang dengan membawa minuman dan kue.
“Oh, ini toh Anna. Sungguh cantik ya, Pak” tutur wanita separuh
baya yang datang sebagai tamu di rumah Anna.
Anna hanya tersenyum manis seraya meletakkan minuman itu di atas
meja.
“Sini duduk, Nak!” ucap Ayah.
“Ilham pasti akan menyukai Anna” ucap Ibu paruh baya itu.
Anna hanya mengernyitkan dahi sembari tertunduk malu.
“Langsung saja. Jadi begini, Pak Abdullah. Kita kan sudah lama
bersahabat sedari kecil, alangkah baiknya jika kita semakin mempererat tali
silaturahmi dengan menjadikan dua keluarga ini menjadi satu. Kami berniat,
untuk mengkhitbah putri bapak, Anna untuk anak kami Ilham. Karena dia yang
meminta untuk dicarikan Istri. Saya sungguh bingung dan tak tahu siapa yang
pantas untuk Ilham, tapi seketika itu bayangan Pak Abdullah tiba-tiba saja
menghampiri dalam mimpi, ketika sebelumnya Ilham menanyakan kabar tentang
keluarga Pak Abdullah. Yah, itulah sebabnya saya datang ke sini. Meski Ilham
tidak bisa datang ke sini karena sedang berada di luar kota” tutur lelaki
separuh baya.
Anna hanya diam mendengar percakapan anatara Ayah dan lelaki
separuh baya yang meminta dirinya untuk dijadikan istri dari anaknya.
“Ilham, saya pun hanya tahu dia ketika kecil saja. Setelah itu, bukankah
Pak Ibrahim mengirimkan Ilham ke rumah neneknya yang berada di Kediri untuk
menuntut ilmu?”
“Iya, benar! Lantas bagaimana ini? Ilham seperti anak kecil saja
merengek meminta Istri” timpal Ibu separuh baya.
“Untuk masalah jodoh. Saya tidak bisa memaksakan. Biarlah Anna yang
memutuskannya” ucap Ayah.
“Sungguh bijaksana. Lalu bagaimana keputusanmu, Nak?” tanya Ibu
separuh baya.
“Anna bagaimana
Ayah dan Ibu saja. Jikalau Ayah dan Ibu setuju, Anna pun akan ikut dengan
keputusan itu”
“Sungguh anak
sholehah juga yang ikut mensertakan Orangtua dalam keputusannya. Meski
Orangtuanya telah menyerahkan penuh keputusannya terhadap sang anak” timpal Ibu
separu baya.
“Kalau Ayah dan
Ibu setuju saja, Nak. Karena Ayah tahu Ilham itu siapa semasa kecilnya.
Orangtuanya pun faham dengan agama. Yah, tentunya buah yang jatuh itu tak akan
jauh dari pohonnya” tuturnya.
“Ah, Pak Abdullah
bisa saja! Tapi, semoga saja. Dan Insya Allah pendidikan agama Ilham bisa dipertanggung
jawabkan” tegas lelaki itu.
***
Ridha Allah ada apa ridha kedua Orangtua, dan kemurkaan Allah ada
pada kemurkaan keduanya. (HR. Al-Baihaqi)
Ada yang mengganjal dalam hati gadis itu. Pikirannya masih saja
tersita oleh lelaki yang ditemuinya di senja itu. Sesosok yang mampu meneduhkan
hati. Tapi, harus terpaksa dimusnnahkan karena akan ada seorang Adam yang
mengkhitbahnya. Karena Anna tak ingin membuat Ayah dan Ibunya kecewa, meski
keputusan penuh ada di tangannya. Buku catatannya yang hilang pun belum jua ditemukan,
entah kemana perginya.
“Ada apa, Nak? Kok melamun?” tanya Ibu yang ketika itu menghampiri
anak gadisnya yang tengah hanyut dalam lamunan di beranda rumah.
Anna hanya menggelengkan kepala, lalu merajuk manja kepada sang Ibu
dalam pelukannya.
“Masalah perjodohan itu? Sebelumnya Ayah dan Ibu telah menyerahkan
keputusan seutuhnya kepadamu, Nak. Ayah dan Ibu tidak memaksa, jika kamu tak
ingin dengan anak dari Pak Surya itu, tak mengapa. Ibu dan Ayah bisa jelaskan
nanti pada mereka” tutur Ibu.
“Gak, Bu. Tak mengapa. Keputusan Orangtua itu selalu baik. Ridha
Allah, kan ada pada ridha orangtua. Hanya saja…” tutur Anna tanpa menjelaskan
perkataannya.
“Apa, Nak? Apakah sudah ada lelaki yang membuat hatimu luluh?”
tanya Ibu.
Anna hanya diam, tak menjawab pertanyaan sang Ibu.
“Anna, jujur pada Ibu, Nak!”
“Iya, Bu. Sudah ada seorang lelaki yang membuat hati Anna luluh.
Tapi, Anna tidak tahu siapa dia. Saat itu, Anna tak sengaja menabraknya ketika
Anna tengah berjalan tanpa fokus ke depan. Pandangannya sungguh meneduhkan
jiwa, Bu” tutur Anna.
“Sabar ya, Nak. Jika memang jodoh, semuanya tak akan kemana. Allah
punya banyak cara untuk mempertemukan hamba dengan jodohnya. Yakin saja,
kehendak Allah itu yang terbaik”
Anna mengangguk tersenyum kepada sang Ibu. Beberapa saat setelah
itu, ketika Sang Ibu tengah bercengkerama dengan sang anak, tiba-tiba saja sang
Ayah mengampiri.
“Anna, Ibu. Ada keluarga pak Surya datang bersama anaknya Ilham.
Ayo sambut!” ucap Ayah. Seketika itu pula Anna dan Ibunya pun bergegas untuk
menghampirinya. Tapi, Anna tertahan di dapur, karena dia harus membuat minuman
terlebih dahulu untuk tamu yang berencana akan menjadikannya menantu.
Purnama tersenyum pada malam, menambah suasana menjadi mempesona.
Sungguh, betapa terkejutnya ketika Anna datang dengan membawa minuman. Yah,
ketika pandangannya tertuju pada sesosok lelaki yang duduk diantara lelaki dan
wanita separuh baya yang bertamu ke rumahnya beberapa malam yang lalu. Sesosok
lelaki yang membuat jiwanya tergoda pada jumpa pertama.
Anna pun duduk diantara Ayah dan Ibunya
“Anna. Ini buku catatanmu yang membawaku kepadamu. Buku catatan
yang terjatuh ketika kau tanpa sengaja menabrakku di senja itu” ucap lelaki itu
sembari menyerahkan buku catatan Anna di atas meja.
Anna hanya tertunduk malu.
“Subhanallah. Sungguh Allah Maha Kuasa. Dia punya banyak cara untuk
mempertemukan setiap hamba dengan jodohnya” timpal Ibu Anna.
“Yah. Ini lah Kuasa Allah. Dan Alhamdulillah, ternyata gadis yang
diinginkan oleh Ilham adalah anak gadis dari sahabat saya sendiri. Jika memang
sudah sepakat, mari kita bicarakan tanggal yang baik untuk melaksanakan akad
nikah” tutur Ayah lelaki yang bernama Ilham itu.
“Alhamdulillah ya Allah” ucap Anna dalam hati yang tak hentinya
tersenyum sembari tertunduk malu dan bersyukur kepada Allah atas lelaki yang
dikirimkan untuk menjadi Imamnya sesosok lelaki yang sesuai dengan kriteria dan
agamanya.
Wanita-wanita yang baik
adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita
yang baik pula. (QS: An-Nur;
26).
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar