Kamis, 01 Oktober 2015

Jodohmu adalah Cerminan Dirimu, Ukhty





Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan perempuan-perempuan yang beriman, “Hendaklah merka mengulurkan Jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang. (QS; AL-Ahzab; 59).
“Fatimah” Panggil gadis berkerudung hitam yang menjulur hingga menutupi dada, dengan sebuah bros bebentuk bunga menghiasi jilbabnya yang menjadikannya semakin anggun, sepadan dengan baju jubah berwarna coklat yang dikenakannya hari itu. Sungguh anggun, laksana Anna Althafunnisa dalam film Ketika Cinta Bertasbih.
“Iya. Ada apa, An?” tanya Fatimah.
“Antar aku beli buku sepulang bimbingan nanti, yuk!” ucap gadis yang menggemari kerudung berwarna hitam itu.
“Ayo. Sekalian beli kerudung tuh! Jangan warna hitam saja yang dikoleksi. Bisa jadi orang mengira kamu tak pernah ganti kerudung loh, An!” tutur Fatimah.
Namun, Anna hanya tersenyum menyeringai.
“Ihhh! senyum lagi” celoteh Fatimah yang kerudungnya dililit-lilit menjadi, seperti modelnya para muslimah yang kini tengah menjaman dengan jilbab trendi. Tak lagi syar’i seperti yang dianjurkan islam.
“Iya, nanti lain kali saja. Jika aku sudah ada hasrat berpaling ke warna selain hitam, Fatimah” balas Anna.
“Kamu masih betah saja memakai jilbab besar, An. Tidak tertarik kah dengan model-model kerudung yang dililit seperti aku dan kebanyakan muslimah yang lainnya?” tanya Fatimah.
“Loh, kenapa tiba-tiba saja bertanya seperti itu?” tanya balik Anna.
“Aku hanya sekedar ingin mengetahuinya saja. Pribadiku sendiri, aku tak mampu menahan godaan jilbab trend sekarang ini”
“Yah, sebenarnya. Aku pribadi, senang juga kok lihat jilbab trend sekarang. Kamu tahu sendiri, kan. Aku ini suka yang simple-simple aja. Gak suka yang berbelit-belit, memakai kerudung seperti itu harus membutuhkan waktu yang lumayan lama. Ditambah aku ini bukan tipe orang yang penyabar. Lagipula, yang syar’i seperti ini lebih nyaman dipakai. Tapi, menurutku. Jilbab yang aku kenakan ini tidak terlalu syar’i seperti akhwat dan Anna Althafunnisa, hanya sekedarnya saja menutupi dada” tutut Anna sembari membuka lembaran demi lembaran bukunya.
“Wah, sungguh kamu itu…” ucap Fatimah yang tak menyelesaikan perkataannya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
“Apa hayoo?” tanya Anna sembari menutup buku yang tengah dibacanya.
“Seperti Anna Althafunnisa” jawab Fatimah singkat sembari tersenyum.
“Namaku Anna Azhariah. Bukan Anna Althafunnisa. Lagipula, sangat jauh perbedaanya. Seperti langit dan bumi. Beliau itu subhanallah, sungguh wanita muslimah. Sementara aku, bukan orang penyabar dan sangat sensitive. Maka dari itu, aku selalu berdoa, supaya kelak nanti aku dijodohkan dengan seseorang yang penyabar, serta mampu menuntunku menuju syurga-Nya” tutur Anna.
“Aamiin. Aku sungguh terharu mendengar penjelasanmu, An”
Anna hanya tersenyum manis kepada sahabatnya tersebut.
***
Langit mulai berwarna jingga, memancarkan pesona yang menggelora. Yah, senja selalu menjadi pesona di sore hari.
Gadis berkerudung berwarna hitam itu Nampak tengah membawa sekantong plastik yang berisi buku dan kaset film religi yang dibelinya tadi siang bersama Fatimah. Karena keadaan langit saat itu tertutupi oleh sang mega. Hingga langit pun tak lagi mampu untuk menahan deraiannya. Alhasil, langit pun menangis. Rinainya membasahai bumi pertiwi hingga tetesannya pun masih terasa saat senja tiba.
Anna melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit. Mempercepat langkahnya karena takut kemalaman tiba di rumah. Saat Anna, melangkahkan kakinya sembari merapihkan buku ke dalam tasnya. Dia pun ambruk menabrak sesosok onggokan daging. Yah, seorang Adam.
“Maaf, maaf. Saya tidak melihat” ucap Anna penuh rasa salah sembari membetulkan kerudungnya, yang lalu melihat siapa yang tengah ditabraknya itu. Lantas, tanpa sadar tatapannya saling tertuju satu sama lain. Lekat, penuh makna.
“Astaghfirullahal adzim” ucap Anna ketika tersadar dan bersegera menundukan pandangannya.
“Saya yang minta maaf” ucap sesosok lelaki berperawakan tinggi, berkemeja abu-abu dan bercelana jeans itu. Yang sekilas dalam pandangan Anna terlihat begitu sempurna, meski di awal pertama jumpa.
“Iya. Maaf. Permisi, saya pergi terlebih dahulu” ucap Anna yang pandangannya masih tertunduk dan segera melangkahkan kakinya itu.
Lelaki itu pun terus menelusuri jejak demi jejaknya Anna. Hingga bayangannya luput dari pandangan matanya. Selintas, lelaki itu mengulas senyum manis ketika kepergian Anna. Kini, pandangan lelaki itu tertuju pada benda kecil yang terserak di jalan tadi. Yah, sebuah buku catatan milik Anna tertinggal di sana. Buku yang dipenuhi dengan puisi-puisinya, serta tentang kehidupannya.
Lalu dia pun meraih buku itu, dan membawa pulang bersamanya. Terus dalam genggamana lelaki tersebut. Yah, sesosok lelaki yang fisiknya sangat dimimpikan Anna. Berperawakan tinggi dan meneduhkan hati pada jumpa pertamanya. Entahlah, mungkin karena agamanya.
Lembar demi lembar buku catatan itu dibukanya, dibaca dengan seksama, dipenuhi kata demi katanya. Sesekali wajahnya pun dihiasi senyum manis. Meski tak semua lembaran dibacanya, karena sifatnya yang pribadi. Hanya lembaran yang berisikan sajak dan syair saja yang tengah dikupas habis olehnya.
***
Pagi itu, mentari tersenyum ramah pada dunia. Hingga sinarnya pun masih terasa hangat, membiaskan pada tetesan hujan bekas kemarin di dedaunan.
“Aduh. Buku aku mana ya?” ucap Anna sendiri di kamar sembari mencari-cari dimana letak buku itu berada.
“Anna…” terdengar suara wanita separuh baya dari luar kamarnya, yang tak lain adalah Ibunya sendiri.
“Iya, Bu” balas Anna sembari menghampiri asal suara itu.
Pagi ini Anna hanya di rumah. Karena ini hari minggu, hari libur untuk kuliah dan mengajar.
“Ada apa, Bu?” tanya Anna.
“Ada tamu di depan. Tolong buatkan minum untuk mereka ya, Nak. Ibu mau menemaninya, tak enak kalau dianggurkan terlalu lama” jawab Ibu.
Anna pun hanya mengangguk, dan Ibu bergegas menuju tamu yang tengah berada di runag tamu bersama Ayahnya sejak tadi.
Beberapa saat kemudian, Anna datang dengan membawa minuman dan kue.
“Oh, ini toh Anna. Sungguh cantik ya, Pak” tutur wanita separuh baya yang datang sebagai tamu di rumah Anna.
Anna hanya tersenyum manis seraya meletakkan minuman itu di atas meja.
“Sini duduk, Nak!” ucap Ayah.
“Ilham pasti akan menyukai Anna” ucap Ibu paruh baya itu.
Anna hanya mengernyitkan dahi sembari tertunduk malu.
“Langsung saja. Jadi begini, Pak Abdullah. Kita kan sudah lama bersahabat sedari kecil, alangkah baiknya jika kita semakin mempererat tali silaturahmi dengan menjadikan dua keluarga ini menjadi satu. Kami berniat, untuk mengkhitbah putri bapak, Anna untuk anak kami Ilham. Karena dia yang meminta untuk dicarikan Istri. Saya sungguh bingung dan tak tahu siapa yang pantas untuk Ilham, tapi seketika itu bayangan Pak Abdullah tiba-tiba saja menghampiri dalam mimpi, ketika sebelumnya Ilham menanyakan kabar tentang keluarga Pak Abdullah. Yah, itulah sebabnya saya datang ke sini. Meski Ilham tidak bisa datang ke sini karena sedang berada di luar kota” tutur lelaki separuh baya.
Anna hanya diam mendengar percakapan anatara Ayah dan lelaki separuh baya yang meminta dirinya untuk dijadikan istri dari anaknya.
“Ilham, saya pun hanya tahu dia ketika kecil saja. Setelah itu, bukankah Pak Ibrahim mengirimkan Ilham ke rumah neneknya yang berada di Kediri untuk menuntut ilmu?”
“Iya, benar! Lantas bagaimana ini? Ilham seperti anak kecil saja merengek meminta Istri” timpal Ibu separuh baya.
“Untuk masalah jodoh. Saya tidak bisa memaksakan. Biarlah Anna yang memutuskannya” ucap Ayah.
“Sungguh bijaksana. Lalu bagaimana keputusanmu, Nak?” tanya Ibu separuh baya.   
            “Anna bagaimana Ayah dan Ibu saja. Jikalau Ayah dan Ibu setuju, Anna pun akan ikut dengan keputusan itu”
            “Sungguh anak sholehah juga yang ikut mensertakan Orangtua dalam keputusannya. Meski Orangtuanya telah menyerahkan penuh keputusannya terhadap sang anak” timpal Ibu separu baya.
            “Kalau Ayah dan Ibu setuju saja, Nak. Karena Ayah tahu Ilham itu siapa semasa kecilnya. Orangtuanya pun faham dengan agama. Yah, tentunya buah yang jatuh itu tak akan jauh dari pohonnya” tuturnya.
            “Ah, Pak Abdullah bisa saja! Tapi, semoga saja. Dan Insya Allah pendidikan agama Ilham bisa dipertanggung jawabkan” tegas lelaki itu.
***
Ridha Allah ada apa ridha kedua Orangtua, dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan keduanya. (HR. Al-Baihaqi)
Ada yang mengganjal dalam hati gadis itu. Pikirannya masih saja tersita oleh lelaki yang ditemuinya di senja itu. Sesosok yang mampu meneduhkan hati. Tapi, harus terpaksa dimusnnahkan karena akan ada seorang Adam yang mengkhitbahnya. Karena Anna tak ingin membuat Ayah dan Ibunya kecewa, meski keputusan penuh ada di tangannya. Buku catatannya yang hilang pun belum jua ditemukan, entah kemana perginya.
“Ada apa, Nak? Kok melamun?” tanya Ibu yang ketika itu menghampiri anak gadisnya yang tengah hanyut dalam lamunan di beranda rumah.
Anna hanya menggelengkan kepala, lalu merajuk manja kepada sang Ibu dalam pelukannya.
“Masalah perjodohan itu? Sebelumnya Ayah dan Ibu telah menyerahkan keputusan seutuhnya kepadamu, Nak. Ayah dan Ibu tidak memaksa, jika kamu tak ingin dengan anak dari Pak Surya itu, tak mengapa. Ibu dan Ayah bisa jelaskan nanti pada mereka” tutur Ibu.
“Gak, Bu. Tak mengapa. Keputusan Orangtua itu selalu baik. Ridha Allah, kan ada pada ridha orangtua. Hanya saja…” tutur Anna tanpa menjelaskan perkataannya.
“Apa, Nak? Apakah sudah ada lelaki yang membuat hatimu luluh?” tanya Ibu.
Anna hanya diam, tak menjawab pertanyaan sang Ibu.
“Anna, jujur pada Ibu, Nak!”
“Iya, Bu. Sudah ada seorang lelaki yang membuat hati Anna luluh. Tapi, Anna tidak tahu siapa dia. Saat itu, Anna tak sengaja menabraknya ketika Anna tengah berjalan tanpa fokus ke depan. Pandangannya sungguh meneduhkan jiwa, Bu” tutur Anna.
“Sabar ya, Nak. Jika memang jodoh, semuanya tak akan kemana. Allah punya banyak cara untuk mempertemukan hamba dengan jodohnya. Yakin saja, kehendak Allah itu yang terbaik”
Anna mengangguk tersenyum kepada sang Ibu. Beberapa saat setelah itu, ketika Sang Ibu tengah bercengkerama dengan sang anak, tiba-tiba saja sang Ayah mengampiri.
“Anna, Ibu. Ada keluarga pak Surya datang bersama anaknya Ilham. Ayo sambut!” ucap Ayah. Seketika itu pula Anna dan Ibunya pun bergegas untuk menghampirinya. Tapi, Anna tertahan di dapur, karena dia harus membuat minuman terlebih dahulu untuk tamu yang berencana akan menjadikannya menantu.
Purnama tersenyum pada malam, menambah suasana menjadi mempesona. Sungguh, betapa terkejutnya ketika Anna datang dengan membawa minuman. Yah, ketika pandangannya tertuju pada sesosok lelaki yang duduk diantara lelaki dan wanita separuh baya yang bertamu ke rumahnya beberapa malam yang lalu. Sesosok lelaki yang membuat jiwanya tergoda pada jumpa pertama.
Anna pun duduk diantara Ayah dan Ibunya
“Anna. Ini buku catatanmu yang membawaku kepadamu. Buku catatan yang terjatuh ketika kau tanpa sengaja menabrakku di senja itu” ucap lelaki itu sembari menyerahkan buku catatan Anna di atas meja.
Anna hanya tertunduk malu.
“Subhanallah. Sungguh Allah Maha Kuasa. Dia punya banyak cara untuk mempertemukan setiap hamba dengan jodohnya” timpal Ibu Anna.
“Yah. Ini lah Kuasa Allah. Dan Alhamdulillah, ternyata gadis yang diinginkan oleh Ilham adalah anak gadis dari sahabat saya sendiri. Jika memang sudah sepakat, mari kita bicarakan tanggal yang baik untuk melaksanakan akad nikah” tutur Ayah lelaki yang bernama Ilham itu.
“Alhamdulillah ya Allah” ucap Anna dalam hati yang tak hentinya tersenyum sembari tertunduk malu dan bersyukur kepada Allah atas lelaki yang dikirimkan untuk menjadi Imamnya sesosok lelaki yang sesuai dengan kriteria dan agamanya.
Wanita-wanita  yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik pula. (QS: An-Nur; 26).
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar