Kamis, 01 Oktober 2015

Jomblo Sampai Halal



           

Sebelum diijab kabulkan
Syariat tetap membatasi
Sebait lagu dari miliknya Hijjaz menemani suasana heningnya sang malam, yang hanya disinari oleh purnama dan gemerlap bintang-bintang di langit.
“Aku sayang kamu, Nis. Kamu mau jadi pacarku?” tanya Ilham pada Nisa di sebuah Toko Buku yang tak sengaja bertemu.
Nisa hanya terdiam membungkam ketika lelaki yang selama ini telah menyita habis pikirannya, kini menyatakan bahwa dia menyayanginya.
“Loh, ko diam? Kenapa?” tanya Ilham memastikan
“Maaf, Ka. Aku tak bisa memberi jawabannya sekarang” balas Nisa
“Ya sudah, aku tunggu jawabanmu tiga hari mendatang”
Nisa hanya tersenyum simpul dan menundukan kepalanya, tak kuasa untuk menatap Ilham atau bangsa Adam yang bukan muhrim baginya. Karena Nisa yang telah lama tinggal di sebuah Pesantren semenjak dia menyelesaikan sekolah dasar hingga bangku SMA. Mungkin, segala akidah dan syariat-syariat islam sedikitnya telah mengakar pada jiwa gadis berkerudung itu.
***
“Jadi kamu belum kasih jawaban pada Ilham, Nis” tanya Rinasahabat karib Nisa yang beberapa bulan lalu telah menikah.
“Aku minta waktu untuk berpikir, Rin. Aku gak tahu harus bagaimana. Jujur, aku suka sama dia, karena kebaikan dan impianku untuk mendapatkan calon suami yang berperawakan tinggi. Tapi, Kak Ilham minta aku supaya jadi pacarnya. Bukan sebagai calon istrinya, aku takut jika harus pacaran. Aku ingin mewujudkan mimpiku yang tak akan pacaran sebelum menikah” Tutur Nisa
“Mungkin Ilham ingin mengenalmu lebih dekat lagi. Tapi, apakah agama Ilham bagus?” tanya Rina yang sembari membereskan rumahnya itu
“Aku kurang tahu, Rin. Tapi yang aku dapatkan info dari temannya, bahwa dia sering melakukan sholat lima waktu secara berjamaah di mesjid”
“Yah sudah, terima saja. Kamu mau yang seperti apa lagi, Nis? Sudah berapa banyak lelaki yang kamu tolak hanya karena agamanya kurang baik dan tak seperti apa yang kamu inginkan? Sekarang ada lelaki yang kamu suka dan agamanya pun cukup baik. Kenapa gak dipertahankan. Saran aku, tanya dia baik-baik. Jika memang dia serius sama kamu, ya khitbah kamu sekarang juga” tegas Rina
“Tapi, aku ingin menyelesaikan kuliahku dulu, Rin. satu tahun setengah lagi, dan itu akan cukup lama. Itu pun jika aku masih bisa membentengi hati ini” sambung Nisa
“Lalu? Kamu mau pacaran dahulu dengan Ilham?”
Nisa hanya menggelengkan kepala
“Nisa, ikuti kata hati saja. Jika memang Ilham itu jodohmu, dia tak akan kemana”
Ucap Rina sembari menatap lekat Nisa
“Iya, Rin. Aku pun tak memungkiri, kalau aku pun butuh kasih sayang dan perhatian dari seorang pasangan. Meski selama ini kasih sayang Allah dan keluarga pun telah lebih dari cukup. Tapi, aku tahu. Ini belum saatnya, aku harus bisa memerangi hawa nafsuku. Dan harus bisa menjadi pemenangnya, yang setelah sekian lama aku berjuang untuk mempertahankan jombloku sebelum halal, meski dulu pernah aku gugur satu kali. Tapi, aku tak mau itu terulang kembali”
Rina hanya tersenyum simpul melihat sahabatnya yang kini telah reda kembali setelah beberapa saat hatinya terjajah oleh yang namanya cinta sebelum halal.
***
“Ka, sebelumnya aku minta maaf. Aku tak bisa menerima cintamu” isi pesan singkat yang dikirmkan Nisa kepada Ilham
Kenapa?” jawaban dari Ilham setelah Nisa menunggu beberapa saat.
Karena aku belum mampu untuk menghalalkan cinta ini. Aku takut akan pada-Nya. Jika memang aku adalah tulang rusukmu, insyaAllah DIA akan menyatukan kita dalam indahnya cinta atas ridha-Nya. Saat ini, kita perbaiki diri saja dulu. Karena jodoh itu adalah cerminan dari diri kita masing-masing.” balas Nisa lagi kepada Ilham. namun setelah itu, Nisa tak lagi mendapatkan balasan dari Ilham lagi.
Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, laki laki yang baik-untuk perempuan yang baik (Pula). (QS: An-Nur; 24).
Itulah janji Allah yang telah tertulis dalam kitab suci AL-Qur’an yang tak mungkin diingkari-Nya.
***
Satu bulan sudah ketika Ilham menyatakan perasaannya kepada Nisa. Dan semenjak itu pula Ilham tak berani menampakan dirinya di depan Nisa.
“Nisa, sini dulu, Nak!” panggil Ayah Nisa yang ketika itu kedatangan  tamu. Nisa pun langsung memenuhi panggilan Ayahnya. Betapa terkejutnya dia, ketika mengetahui bahwa tamu itu adalah Ilham yang datang bersama keluarganya.
Nisa hanya diam membungkam, tak tahu apa maksud kedatangannya.
“Maksud kedatangan kami ke sini. Untuk mengkhitbah anak bapak yang bernama Nisa untuk Putra sulung kami Ilham” tutur Ayah Ilham
Nisa hanya terdiam dan tersenyum sembari menundukkan kepalanya ketika mendengar penuturan dari Ayah Ilham yang rencananya akan dilangsungkan pernikahan satu bulan mendatang.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar